Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita Utama

112 Tahun Kota Sukabumi, Merawat “Bayi” Peradaban secara Proporsional

×

112 Tahun Kota Sukabumi, Merawat “Bayi” Peradaban secara Proporsional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Kang Warsa / Pegiat Literasi Sukabumi 

Example 300x600

Kemarin menjadi momentum yang istimewa bagi Kota Sukabumi. Melalui serangkaian acara, mulai dari upacara seremonial hingga rapat paripurna, pemerintah dan warga merayakan hari jadi kota yang ke-112. Namun, angka 112 tahun ini bukan berarti Sukabumi benar-benar baru berusia satu abad lebih.

Secara de facto, keberadaan wilayah bernama Sukabumi sudah tercatat ada sejak awal abad ke-19. Bahkan, jika merujuk pada tradisi lisan masyarakat di masa lalu, sangat mungkin keberadaan “wewengkon” ini jauh lebih tua dari yang kita rayakan tahun ini.

Penetapan 1 April 1914 sebagai hari jadi hanyalah satu dari sekian metode penelusuran sejarah yang otentik dari para pendahulu. Dalam menetapkan tanggal ini, kita tentu tidak bisa menutup mata terhadap keterlibatan pihak Belanda. Pada masa itu, mereka memiliki peran penting dalam mendirikan Kota Praja Sukabumi sebagai wilayah administratif yang strategis.

Baca Juga: Idul Fitri sebagai Manifestasi Restorative Justice dalam Perspektif KUHAP No. 20 Tahun 2025

Belanda pulalah yang meletakkan fondasi awal untuk memastikan keberlanjutan kota ini, mulai dari infrastruktur bangunan, aksesibilitas, hingga tatanan sosial-kultural.

Secara pribadi, saya tidak terlalu mempermasalahkan seberapa penting penentuan tanggal pasti hari jadi tersebut. Bagi saya, substansi paling utama dari eksistensi sebuah kota adalah kedirian dan keajegannya.

Penetapan hari jadi secara formal adalah ikhtiar terbaik dari panitia dan pemerintah saat itu. Tujuannya sederhana namun krusial yaitu agar pemerintah memiliki acuan yang jelas dalam memetakan tiga dimensi waktu kota ini; kemarin, hari ini, dan masa yang akan datang.

Baca Juga: Ramadhan dan Kesadaran Hukum: Antara Disiplin Ibadah dan Realitas Sosial

Sebagai bagian dari warga Kota Sukabumi, saya tentu merasa punya andil untuk memberikan masukan sekaligus evaluasi. Jika kita berpikir lebih jernih menggunakan kacamata sejarah, usia satu abad sejatinya bukanlah angka yang besar untuk sebuah peradaban.

Bandingkan dengan peradaban Mesir Kuno, yang belakangan oleh sebagian kecil orang kerap dikaitkan dengan Anunnaki, telah mampu berdiri kokoh hingga 3.000 tahun sebelum akhirnya runtuh. Mengingat perbandingan itu, di usianya yang ke-112 ini, Kota Sukabumi ibaratnya masih seorang bayi.

Layaknya seorang bayi, Kota Sukabumi sangat membutuhkan nutrisi yang baik agar kelak bisa tumbuh menjadi sosok yang besar, dewasa, sehat, dan mampu berpikir jernih. Nutrisi untuk merawat entitas kota ini tentu tidak bisa hanya disiapkan oleh pemerintah semata, melainkan butuh keterlibatan seluruh elemen.

Baca Juga: Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan dan Denyut Ekonomi Ramadan di Kota Sukabumi

Seperti pepatah warisan leluhur kita: “paheuyeuk-heuyeuk leungeun, paantay-antay tangan” (saling berpegangan tangan dan bergotong royong). Pemerintah idealnya hanya berperan sebagai pelatuk (trigger), sementara bahan bakar dan mesin penggerak utamanya adalah seluruh unsur masyarakat yang ada di dalamnya.

Kita harus ingat bahwa Kota Sukabumi adalah sebuah wewengkon, kesatuan wilayah yang utuh. Dengan kesadaran ini, upaya menumbuhkan kota tidak boleh hanya dipusatkan di wilayah utama atau pusat kota saja. Jika kita ibaratkan tubuh, kita tidak mungkin terus-menerus memberi asupan berlebih hanya pada “kepala” karena dikhawatirkan ukurannya akan membesar tak proporsional.

Anggota badan yang lain juga harus dirawat dan diberi gizi yang cukup agar tubuh tidak terlampau kurus, tangan tidak terserang penyakit, dan kota kita tidak mengalami “polio” akibat ketimpangan pembangunan.

Baca Juga: Munggahan dan Sukacita Menyambut Ramadan

Wilayah pinggiran tidak boleh dibiarkan hanya menjadi permukiman pasif. Pemerintah harus menciptakan kantong-kantong episentrum ekonomi baru. Jika sebuah wilayah (misalnya kelurahan) di pinggiran memiliki potensi agrikultur lokal, jadikan wilayah itu pusat agro-technopark skala kota. Jika sebuah wilayah memiliki sejarah kerajinan, suntikkan teknologi dan modal agar menjadi sentra industri kreatif yang modern.

Pembangunan Kota Sukabumi adalah ikhtiar bersama untuk mewujudkan tata kota yang proporsional. Di usianya yang baru seabad lebih ini, kita juga harus sadar bahwa komposisi pemikiran telah bergeser; era saat ini didominasi oleh millenial dan Generasi Z serta Alpha.

Hal tersebut menuntut generasi sebelumnya (Baby Boomers dan Generasi X) yang masih banyak mengisi ruang penentu kebijakan untuk benar-benar beradaptasi merumuskan pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: Hari Pers Nasional Tahun 2026: Menjaga Kesehatan Pers, Menegakkan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Penting diingat, milenial dan Gen Z tidak lagi terkesan oleh pembangunan monumen-monumen beton berskala raksasa atau pidato panjang lebar tentang ketertiban.

Mereka menuntut hal yang lebih esensial yaitu udara yang bersih, akses internet yang merata dan murah, ruang kerja kolektif (coworking space) publik, transparansi anggaran yang bisa diakses dari layar gawai, keadilan iklim, dan perhatian pada kesehatan mental warga.

Jika ide dan kebijakan yang ditawarkan tidak segar, generasi milenial dan Gen Z akan menafsirkannya sebagai aturan kolot yang usang dan tidak menyentuh nurani mereka. Jika sudah begitu, pada akhirnya merekalah yang akan membuat formula sendiri dalam menentukan arah kehidupannya.

Baca Juga: Refleksi Moral Badan Gizi Nasional di penghujung tahun 2025

Pemerintah kota harus membuka “ruang retas” perumusan kebijakan publik yang melibatkan anak-anak muda secara langsung. Berhenti menebak-nebak apa yang dimaui anak muda.

Berikan mereka ruang hibrida (fisik dan digital) untuk menginkubasi ide-ide penyelesaian masalah kota. Jadikan mereka penasihat wali kota dalam urusan transformasi digital dan ekonomi kreatif, bukan sekadar penonton di barisan belakang saat acara seremonial.

Kita sedang merawat seorang “bayi” peradaban. Untuk menjadikannya kota yang dewasa, sehat, dan proporsional, kita harus segera menghentikan kebiasaan memberi makan “kepala” sambil membiarkan “anggota tubuh” lainnya kelaparan.

Kita harus memutus rantai egosentris ruang yang hanya menguntungkan bagian kepala, dan mulai merangkul generasi baru dengan bahasa dan pendekatan yang mereka pahami.

The post 112 Tahun Kota Sukabumi, Merawat “Bayi” Peradaban secara Proporsional first appeared on Sukabumi Ku.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *