JAKARTA – Bagi Lisnawati, empat tahun terakhir bukan sekadar angka di kalender, melainkan rentang waktu penuh penyiksaan batin yang berujung pada sebuah tragedi yang tak terbayangkan. Harapan untuk kembali memeluk Nizam Syafei atau NS (13), putra tercintanya, kini sirna selamanya setelah bocah yang akrab disapa Raja tersebut berpulang dalam kondisi yang sangat memilukan.
Dalam curahan hatinya di kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Lisna membagikan kisah tentang Nizam, sosok anak yang begitu dicintainya dan memiliki cita-cita mulia sebagai seorang kiai demi mengangkat derajat orang tuanya, sebuah impian yang kini harus terkubur bersama kepergiannya.
Trauma yang dialami Lisna terasa begitu mendalam, mengingat adanya rekam jejak masa lalu yang kelam saat ia masih menjalani biduk rumah tangga bersama mantan suaminya. Lisna menceritakan bagaimana ia kerap menjadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebuah pengalaman pahit yang membentuk insting tajamnya hari ini. Ia merasa sangat terpukul dan tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa Nizam.
Baca Juga: Tim Kuasa Hukum Ibu Kandung Nizam Dorong Penerapan Pasal Pembunuhan Berencana
“Saya terpukul. Seandainya saya tahu kondisi sebenarnya di sana, saya tidak akan pernah memberikan izin dia tinggal dengan ayahnya,” ungkap Lisna dengan suara yang terbata-bata menahan tangis.
Lebih dari sekadar kehilangan, Lisna mengungkap rasa sakit yang tak terperi akibat upaya sistematis yang dilakukan mantan suaminya selama empat tahun terakhir untuk memutus ikatan kasih sayang antara ibu dan anak.
Ia menceritakan dengan pilu bagaimana akses komunikasinya sengaja dibatasi, bahkan ia pernah dikirimi video oleh mantan suaminya yang berisi upaya “cuci otak” terhadap Nizam agar tidak menyayangi ibu kandungnya. Meskipun ia dihantam berbagai tekanan dan rasa bersalah yang menghantui, Lisna kini menetapkan hati untuk bangkit dan tidak lagi sekadar berduka.
Baca Juga: DPPKB Kabupaten Sukabumi Borong Dua Penghargaan di Jabar, Akseptor KBPP Tembus 7.247
Kini, Lisna menjadikan perjuangan keadilan bagi Nizam sebagai satu-satunya cara untuk membalas kasih sayang yang tak sempat ia berikan sepenuhnya saat Nizam masih hidup. Ia berjanji akan memperjuangkan hak sang anak hingga titik darah penghabisan agar jiwa Nizam bisa tenang.
“Bunda akan memperjuangkan hak dia sampai kapan pun,” tegas Lisna, menutup kisahnya dengan tekad yang kuat.
The post Jeritan Hati Lisnawati: Kisah Perpisahan yang Berujung Duka Mendalam bagi Mendiang Nizam Syafei first appeared on Sukabumi Ku.



















