Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita UtamaSukabumi

Restorasi Marwah Pendidikan: Menegakkan Adab di Mihrab Ilmu

×

Restorasi Marwah Pendidikan: Menegakkan Adab di Mihrab Ilmu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sumber: Radar Sukabumi

LEMBAGA pendidikan, entah itu surau kecil di pelosok desa, pesantren yang menebar wangi kitab kuning, atau universitas yang menjulang megah, sejatinya adalah mihrab suci. Ia merupakan ruang sakral tempat ilmu ditransmisikan sebagai cahaya Ilahi.

Example 300x600

Namun, sejarah hari ini sedang mencatat luka yang menganga: kesucian itu kerap dicemari oleh predatorisme seksual yang bersembunyi di balik jubah intelektualitas dan otoritas spiritual. Fenomena ini bukanlah hasil dari satu variabel tunggal, melainkan kulminasi dari kompleksitas faktor epistemologis, psiko-spiritual, interaksional, hingga sosiologis yang saling berkelindan.

Orientasi pendidikan telah bergeser dari tarbiyah, yakni pembentukan karakter, menjadi sekadar ta’lim atau transfer informasi. Ketika ilmu dipandang hanya sebagai komoditas, dimensi ruhiyah pendidik memudar. Ilmu yang kehilangan khasyyah, rasa takut kepada Allah, justru berubah menjadi alat manipulasi.

Konsep “Al-Adab Qablal ‘Ilm” yang dahulu dijunjung tinggi, di mana murid belajar adab bertahun-tahun sebelum menyentuh kitab, kini terkikis oleh kecepatan akademik yang sering mengabaikan kematangan akhlak. Tanpa adab, kecerdasan bisa menjadi senjata predatorisme.

Di sisi lain, setiap tindakan asusila berawal dari retakan jiwa yang tidak segera ditambal dengan latihan spiritual. Pandangan mata yang berkhianat, tatapan yang melampaui batas profesional, menjadi pintu masuk syahwat. Lemahnya kendali nafsu, tanpa dzikrullah dan rasa takut akan hisab, menjadikan institusi pendidikan sekadar kedok pemuasan hasrat rendah. Penyimpangan besar selalu diawali oleh toleransi kecil.

Normalisasi kontak fisik yang dianggap lumrah, seperti menepuk pundak atau mengelus kepala, perlahan meruntuhkan benteng kewaspadaan murid. Manipulasi verbal melalui candaan berkonotasi seksual menjadi “tes” awal sebelum pelaku melangkah lebih jauh.

Lebih jauh, pelecehan di lembaga pendidikan hampir selalu terjadi dalam konteks relasi kuasa yang asimetris. Otoritas spiritual dan akademik sering diputarbalikkan, membuat korban merasa melawan guru sama dengan melawan agama atau mengorbankan masa depan akademiknya. Budaya khulwah, yakni berduaan di ruang tertutup, membuka pintu syaitan yang lebar.

Absennya sistem perlindungan dan kecenderungan menyalahkan korban membuat predator merasa aman. Ketika lembaga lebih takut kehilangan reputasi daripada kehilangan keberkahan, di sanalah keadilan mati.

Menghadapi kompleksitas ini, solusi tidak bisa parsial. Restorasi marwah pendidikan harus bersifat holistik. Lembaga pendidikan perlu menegakkan standar interaksi yang jelas, melarang kontak fisik lawan jenis dan bimbingan di ruang tertutup. Murid dan orang tua harus diedukasi bahwa kepatuhan kepada guru berhenti di batas syariat.

Pendidik harus selalu diingatkan bahwa mereka adalah murabbi, pengemban amanah Allah, bukan pemilik kuasa atas murid. Setiap tindak-tanduknya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Ilahi.

Kesucian lembaga pendidikan tidak bisa dijaga hanya dengan slogan atau spanduk imbauan. Ia menuntut ketegasan dalam menegakkan adab dan syariat. Restorasi marwah pendidikan adalah kerja kolektif: menjaga pandangan tetap terjaga, tangan tetap bersih, dan lisan tetap mulia. Mari kita kembalikan lembaga pendidikan sebagai mihrab ilmu, tempat generasi masa depan mencicipi manisnya iman melalui keagungan adab para pendidiknya. Jagalah adab, karena tanpa adab, ilmu hanyalah senjata bagi kehancuran.(*)

PENULIS :  Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal

The post Restorasi Marwah Pendidikan: Menegakkan Adab di Mihrab Ilmu appeared first on Radar Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *