Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI – Di sebuah halaman sederhana di Sukabumi, suara logam beradu memecah udara sore. Saeful Alam, atau akrab disapa Bah Alam, berdiri di tengah lingkaran murid-muridnya. Dengan rambut gimbal dan tatapan tajam, ia menjaga tradisi debus agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Bagi sebagian orang, debus mungkin sekadar tontonan ekstrem tubuh kebal senjata. Namun bagi Bah Alam, debus adalah warisan leluhur sekaligus jalan hidup. “Debus itu bukan sekadar atraksi. Ada nilai, ada pesan, ada tanggung jawab,” ujarnya.
Debus diyakini berkembang sejak abad ke-16 di masa Maulana Hasanudin di Banten, sebagai medium dakwah dan simbol ketahanan spiritual. Kata “debus” sendiri berasal dari bahasa Arab dablus, merujuk pada senjata runcing sebagai simbol keberanian dan ujian batin.
Warisan itu kini dijaga Bah Alam melalui Padepokan Dadali Pati Nusantara yang ia dirikan pada 2016. Tradisi ini ia warisi dari kakeknya, Abah Kasmeri, dan buyutnya, Mbah Oyang, yang dikenal sebagai tokoh besar debus di Banten.
Dari satu murid di awal perjalanan, kini padepokan berkembang menjadi rumah belajar bagi ratusan orang dari Sukabumi, Bogor, hingga Cianjur. Murid-murid tidak hanya belajar teknik atraksi, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap gerakan. “Kalau golok itu tajam, lisan manusia bisa lebih tajam lagi. Makanya kita harus jaga ucapan,” tuturnya.
Bah Alam menekankan bahwa debus adalah tentang pengendalian diri, bukan sekadar keberanian fisik. Latihan disiplin dan laku spiritual menjadi bagian penting dalam pembinaan. Meski tantangan terbesar datang dari generasi muda yang kerap terpengaruh budaya modern, ia tetap teguh menjaga tradisi dengan menetapkan usia minimal 15 tahun bagi murid yang ingin belajar serius.
The post Abah Alam: Menjaga Nyala Debus di Tanah Sukabumi appeared first on Radar Sukabumi.







