Sumber: Radar Sukabumi
SEJARAH peradaban manusia. Laki-laki sering digambarkan sebagai penggerak utama. Pembangun struktur. Sekaligus perusak tatanan.
Jika diperas seluruh dinamika aktivitas yang menyibukkan waktu, pikiran, dan tenaga seorang laki-laki, akan muncul dua kutub magnet besar: ilmu dan syahwat.
Ilmu: dorongan kognitif, spiritual, rasional. Untuk memahami dunia. Mencari kebenaran. Menciptakan kemaslahatan. Syahwat: dorongan instingtual, emosional, biologis. Tentang kesenangan. Kekuasaan. Kepuasan ragawi.
Ilmu bukan sekadar informasi. Ia alat menaklukkan ketidakpastian. Zaman purba: ilmu bertahan hidup. Pola musim. Perilaku hewan buruan. Strategi perlindungan kelompok. Era modern: berganti menjadi teknologi. Ekonomi. Hukum.
Ilmu membawa laki-laki pada pencarian makna. Ada kepuasan intelektual ketika masalah kompleks terpecahkan. Itulah sebabnya banyak ilmuwan, filsuf, pemikir—menghabiskan hidup dalam kesendirian perpustakaan atau laboratorium.
Francis Bacon: Knowledge is power. Laki-laki menyukai kekuatan. Gelar. Sertifikasi. Keahlian. Semua itu sering didorong oleh keinginan diakui.
Syahwat bukan hanya soal biologis. Seksual. Lebih luas: kekuasaan. Harta. Popularitas.
Testosteron. Dorongan agresivitas. Gairah. Jika tidak diarahkan oleh intelektual atau spiritual, energi itu tumpah ke kesenangan sesaat. Dunia modern mengeksploitasi sisi ini. Hiburan. Konsumerisme.
Hasilnya: kekosongan jiwa. Keluarga berantakan. Integritas hancur. Kontribusi sosial lenyap.
Ilmu menjinakkan syahwat. Memberikan bashirah. Pandangan mata hati. Etika. Agama. Filsafat. Jadi tali kekang bagi kuda liar syahwat.
Sebaliknya, syahwat bisa jadi energi penggerak ilmu. Ambisi positif. Gairah. Tanpa itu, ilmu kering.
Bahaya: laki-laki tanpa ilmu. Ia impulsif. Egois. Destruktif. Atau sebaliknya: berilmu tapi tak mampu mengendalikan syahwat. Jadilah manipulator ulung.
Era digital. Banjir informasi. Media sosial. Disangka ilmu. Padahal hanya receh. Ilmu butuh kontemplasi. Kedalaman.
Pornografi. Candu visual. Ujian terbesar. Dopamin otak rusak. Energi terkuras.
Laki-laki ideal: seimbang. Prioritas ilmu. Disiplin syahwat. Kesadaran spiritual.
Pada akhirnya, setiap laki-laki akan ditanya: bagaimana ia menghabiskan waktunya. Ilmu atau syahwat.
Kehormatan laki-laki bukan pada berapa banyak wanita yang ia taklukkan. Bukan pada seberapa besar harta yang ia kumpulkan. Tapi pada seberapa mampu ia menundukkan ego dan nafsu di bawah cahaya ilmu.(*)
PENULIS : Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal
The post Eksistensi Laki-Laki: Antara Cahaya dan Syahwat appeared first on Radar Sukabumi.















