Sumber: Radar Sukabumi
HARGA BBM nonsubsidi naik tajam setajam silet. Mungkin masih lebih tajam omongan tetangga. Pertamax Turbo dari Rp13 ribu ke Rp19 ribu. Dexlite dari Rp14 ribu ke Rp23 ribu. Pertamina Dex dari Rp14 ribu ke Rp23 ribu.
Kenaikan itu bukan sekadar angka. Ia adalah “cost shock”. Guncangan biaya. Yang langsung terasa di dua jalur: logistik dan pangan.
Logistik naik, pangan ikut naik. Inflasi pun terdorong. Kemiskinan pun bisa bertambah. Siapkan obat tolak miskin, jika ada.
Paradoksnya: BBM nonsubsidi dinaikkan untuk mengurangi beban negara. Tapi justru bisa menambah beban subsidi. Karena orang rasional. Kalau selisih harga Pertamax Turbo dengan Pertalite sampai Rp9 ribu per liter, siapa yang tidak tergoda pindah? Kalau selisih Dexlite dengan Solar subsidi sampai Rp16 ribu, siapa yang tidak berpikir ulang?
Peralihan konsumsi itu nyata. Kalau 10 persen saja pengguna nonsubsidi pindah ke subsidi, tambahan beban bisa Rp15 triliun. Kalau 30 persen, bisa Rp45 triliun. Ditambah kebocoran distribusi, total bisa lebih dari Rp60 triliun.
APBN pun bisa terguncang. Dana untuk kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial bisa tergerus.
Inflasi pun naik. Dari 3,48 persen bisa mendekati 5 persen. Garis kemiskinan pun ikut naik. Tambahan Rp15 ribu–Rp30 ribu per bulan bagi rumah tangga miskin cukup untuk mendorong jutaan orang masuk kategori miskin.
Di kota, dampaknya terasa di ongkos transportasi dan harga harian, meski saya jarang naik angkot, sekali naik langsung pusing. Di desa, lebih berat lagi. Karena ketergantungan pada distribusi barang dari luar. Orang desa gayanya sekarang seperti orang kota.
Inilah lingkaran kebijakan yang berkelindan. Harga dinaikkan untuk mengurangi beban fiskal. Tapi justru bisa memperbesar beban itu.
Masalahnya bukan sekadar harga. Tapi desain kebijakan. Tanpa perbaikan ketepatan sasaran subsidi, pengawasan distribusi, dan efisiensi logistik, kebijakan ini bisa gagal. Bahkan bisa memperdalam ketimpangan sosial.
Cost shock itu nyata. Dan ia sedang mengetuk pintu rumah tangga kita. Jangan dibuka kalau belum siap, salah salah-salah kita yang panik. Kopi habis, semua habis… SABAR.(*)
The post BBM Naik, Cost Shock Itu Nyata appeared first on Radar Sukabumi.











