Sumber: Radar Sukabumi
DI PESANTREN, kami diajarkan satu kaidah sederhana tapi mendalam: al-adabu fauqal ‘ilmi — adab di atas ilmu. Maka ketika seorang qari’ sekaliber Syekh Mishary Alafasy melantunkan Syair nasyid yang sarat muatan politis, santri tidak mendengarnya sekadar sebagai hiburan. Bagi kami, setiap kata adalah maqal yang harus ditimbang dengan mizan syariat.
Analisis Mantiq: Cacat Generalisasi Dalam ilmu mantiq, ada bahaya besar: menghakimi keseluruhan dengan lafaz parsial. Lirik yang menyudutkan Iran sebagai biang kerusakan adalah contoh nyata. Logika formalnya cacat. Bagaimana mungkin satu pihak dikutuk, sementara agresi Zionis dan imperialisme Barat diabaikan? Kesimpulan yang lahir dari premis timpang adalah kesimpulan batil.
Ushul Fiqh: Kehormatan Darah Santri paham kaidah: dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih — menolak kerusakan lebih utama daripada mengambil kemaslahatan. Nasyid yang memicu sentimen sektarian justru memperbesar mafasid berupa perpecahan umat. Imam Suyuthi menulis: al-yaqinu la yuzalu bisy-syakk — keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan. Keyakinan kita adalah ukhuwah Islamiyah. Politik tidak boleh meruntuhkan fondasi persaudaraan itu.
Ibaroh Mutabarah: Kekuasaan dan Kemanusiaan Ibnu Atha’illah berkata: Tidak akan terhenti suatu tuntutan yang engkau cari demi Tuhanmu, dan tidak akan mudah suatu tuntutan yang engkau cari demi kepentingan nafsumu. Jika narasi tauhid dalam nasyid itu murni karena Allah, ia seharusnya membawa kesejukan bagi semua yang dizalimi. Tapi jika ia beraroma pembelaan faksi politik, maka ada nafs yang menyelinap.
Analisis Kemanusiaan: Di Mana Nurani? Santri melihat dunia bukan papan catur kekuasaan, melainkan ladang khidmah. Iran, dalam konteks ini, adalah bangsa yang ditekan. Menyoraki penderitaan mereka dengan dalil perbedaan mazhab jauh dari akhlaqul karimah. Sunni dan Syiah adalah wilayah bahtsul masail, bukan intiqam militer. Menggunakan nasyid untuk legitimasi kebencian sektarian hanya menguntungkan musuh Islam.
Khulasah: Kebenaran Lebih Berhak Diikuti Lirik tabbat yaday Iran adalah ekspresi keras, penuh kebencian. Seorang santri akan berkata:
“Kami adalah ahli tauhid. Tapi tauhid kami tidak mengajarkan untuk menjadi hamba agenda politik pihak lain. Tauhid kami adalah membebaskan kemanusiaan dari segala bentuk penindasan, baik itu penindasan pemikiran, mazhab, maupun agresi militer.”
Fal-haqqu ahaqqu an yuttaba’ — kebenaran lebih berhak untuk diikuti.(*)
PENULIS : Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal
The post Suara, Syair, dan Syariat appeared first on Radar Sukabumi.













