SUKABUMI – Bukan sekadar bangunan yang rusak, terbengkalainya Madrasah Al-Hidayah di Kampung Cidadap RT 04/05, Desa Pasir Ipis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, turut memutus aktivitas sosial dan tradisi warga yang telah berlangsung puluhan tahun.
Selama ini, madrasah yang menyatu dengan Masjid Jami Al-Hidayah tersebut bukan hanya menjadi tempat belajar mengaji, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Kini, sejak dua tahun terakhir, fungsi itu praktis hilang.
Ketua DKM Al-Hidayah, Muhsin, menyebut bangunan madrasah sudah tidak bisa digunakan karena kondisi yang sangat memprihatinkan. Material bangunan banyak yang lapuk, mulai dari atap hingga kusen.
“Sudah tidak layak dipakai. Hampir semua bagian rusak, jadi memang harus dibangun ulang,” ujarnya, kepala Sukabumiku.id, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Museum Prabu Siliwangi Sukabumi, Wisata Sejarah dengan Ribuan Koleksi Bernilai Tinggi
Dampaknya, kegiatan mengaji anak-anak menjadi tidak maksimal. Meski tetap berjalan, proses belajar terpaksa berpindah dan tidak memiliki tempat tetap seperti sebelumnya.
Guru ngaji setempat, Yayan Zen, yang telah mengabdi selama 17 tahun, mengaku tetap berusaha menjaga keberlangsungan pendidikan agama bagi anak-anak, meski dengan keterbatasan fasilitas.
“Sekarang ada sekitar 20 anak yang masih aktif. Bahkan bisa bertambah, karena ada juga dari kampung lain,” katanya.
Baca Juga: Lalin Cibadak Ramai Lancar, Perlintasan Kereta di Segog Hingga Karangtengah Padat Merayap
Menurut Yayan, keberadaan madrasah sangat penting karena telah melahirkan banyak generasi. Ia menyebut, sejumlah muridnya kini telah dewasa, bahkan ada yang menjadi ustaz.
“Dulu belajar di sini, sekarang ada yang sudah jadi ustaz. Itu bukti pentingnya madrasah ini,” ungkapnya.
Tak hanya berdampak pada pendidikan, hilangnya fungsi madrasah juga mengubah kebiasaan sosial warga. Tradisi tahunan seperti botram (makan bersama) dan halal bihalal yang biasa digelar di area masjid kini tak lagi bisa dilakukan di lokasi tersebut.
“Biasanya setiap Lebaran kita kumpul di sini. Tapi dua tahun terakhir terpaksa pindah ke tempat lain,” tambah Yayan.
Sementara itu, Ketua RT setempat, Aziz, mengakui belum adanya pengajuan resmi ke pemerintah daerah menjadi salah satu kendala. Meski sempat ada bantuan dari CSR, nilainya belum mencukupi untuk membangun kembali madrasah.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp35 Ribu, Kini Rp2,76 Juta per Gram
Warga kini mengandalkan swadaya, meski kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai lebih dari Rp50 juta, termasuk pembangunan fasilitas pendukung seperti MCK.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi dapat hadir membantu, tidak hanya untuk memperbaiki bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali pusat pembinaan generasi dan ruang kebersamaan warga.
Bagi warga Cidadap, Madrasah Al-Hidayah bukan sekadar tempat belajar, melainkan simbol kebersamaan dan harapan bagi lahirnya generasi religius di masa depan.
The post Madrasah di Surade Terbengkalai, Tradisi dan Pembinaan Generasi Ikut Terhenti first appeared on Sukabumi Ku.



















