Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita UtamaSukabumi

Masuk Istana

×

Masuk Istana

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Dahlan Iskan
Sumber: Radar Sukabumi

Oleh: Dahlan Iskan

Rumah pembuangan Bung Hatta lebih terpelihara. Masuk Istana Sedikit. Ada seorang wanita muda, berkerudung tua, menjadi penjaga rumah itu. Dia juga pemandu wisata –meski banyak tidak tahu ketika ditanya detail peristiwa. Terlihat tidak ada sedikit pun minat pada sejarah rumah itu, apalagi untuk mendalaminya.

Example 300x600

Wanita itu pegawai negeri. Pun suaminyi yang tugasnya juga di rumah Bung Hatta. Masih ada beberapa benda berharga sejarah di situ: meja kerja Bung Hatta, tempat tidur, mesin tik, dan bangku-bangku sekolah model zaman dulu: tempat duduknya menyatu dengan mejanya yang berlaci yang di permukaan meja ada cekungan untuk tempat pensil dan botol tinta.

Bung Hatta memang mengajar anak-anak Banda di kelas-kelas yang terletak di belakang rumahnya. Ada lima kelas berjajar di halaman belakang rumah itu. Lalu ada sumur tua yang bermulut lebar-bundar yang tidak pernah lagi dipakai.

Pun bekas bangunan dapurnya: kosong.

Saya ingat bekas rumah Zhou Enlai di kecamatan Huai An di pedalaman Tiongkok (Disway 14 Maret 2026:Zhou BK ). Benda-bendanya terawat. Yang hilang dibikinkan imitasinya. Yang terlihat mati dihidup-hidupkan. Pemandunya wanita muda setara dengan sarjana strata dua sejarah.

Tapi ini memang Banda. Yang kalau mau ke ibu kota kabupaten pun harus menyeberangi laut yang rawan gelombang.

Yang amat saya khawatirkan bukan hanya rumah-rumah pembuangan itu. Masih ada dua bangunan yang istimewa: Istana Mini dan Benteng Banda.

Istana Mini itu –begitu sebutan resminya– memang sangat mirip dengan Istana Merdeka Jakarta. Ups…orang Banda tidak akan rela dengan kalimat itu. Mereka bilang Istana Negara Jakarta lah yang mirip Istana Mini Banda.

Istana Mini dibangun sebagai pengganti istana lama yang hancur di tahun 1816. Berarti selemot-lemotnya proses pembangunan istana pengganti masih akan tetap lebih tua dari Istana Merdeka.

Halamannya pun mirip yang Jakarta. Meski tidak terpelihara tapi tidak rusak. Kalau di seberang Istana Merdeka ada lapangan monas, di depan Istana Mini ada taman lebih luas: taman pepohonan yang tersambung ke laut. Kalau sama-sama berdiri di teras istana, pemandangan di depan Istana Mini lebih indah.

Masuk Istana

Tidak ada yang menggunakan Istana Mini ini. Kosong. Siapa saja bisa masuk istana. Kapan saja.

Saya dua kali ke Istana Mini. Waktu pertama datang, di sore hari, saya sulit memotret: ada penduduk yang bakar sampah dengan asap tebal masuk halaman istana.

Besoknya, sebelum matahari terbit saya ke sana lagi: pasti tukang bakar sampahnya masih dibakar mimpi. Memotret menjelang matahari terbit adalah momen terbaik.

Doa saya: penduduk Banda tidak dilanda kemiskinan. Istana ini, meski tidak terpelihara tapi tidak diduduki bangunan liar.

Pun Benteng Banda. Tidak terawat tapi utuh. Menjelang magrib adalah waktu terbaik naik ke atas benteng. Indah sekali. Inilah lokasi tertinggi di pulau Banda Kecil. Dari atas benteng bisa melihat semua laut di sekeliling Banda. Pulau Gunung Api bisa seperti di pelupuk mata.

Dibanding benteng mana pun di Indonesia, Benteng Banda adalah benteng terbaik yang masih ada. Utuh. Indah. Rasanya saya ingin tiap senja ke benteng ini: membaca buku atau menulis untuk Disway.

Sesekali di salah satu kamar lantai bawah benteng ini saya bisa menyanyi tanpa rasa malu: suara cempreng saya bisa berubah menjadi sedikit bulat oleh gema dinding-dinding tebal tuanya.

Pindah ruangan gemanya berbeda. Dari satu ruangan ke ruang lainnya suara saya bisa berganti dari Broery Pesulima ke Changcuters ke Gombloh dan Little Richard.(Dahlan Iskan)

The post Masuk Istana appeared first on Radar Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *