Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosok

Media Gugur

×

Media Gugur

Sebarkan artikel ini

oleh : Handi Salam

Handi Salam
Example 468x60

Kemarin saya dapat pesan dari teman. Isinya bikin dada sesak: satu per satu media televisi daerah tumbang. Ya Jawapos TV. Sebagian orangnya saya kenal. Bukan tumbang pelan-pelan seperti pohon pisang kena angin. Ini tumbang seperti dinosaurus dihantam meteor algoritma.

Jawapos TV. Dipaksa Resmi berhenti mengudara. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-19.

Example 300x600

Orang normal ulang tahun dapat kue tart. Jawapos TV malah dapat karangan bunga duka cita dari zaman. Saat ini saya masih Bernaung di Radar Sukabumi. Gedungnya megah di Jalan panjalu Selabintana. Kini Sepi. Tapi semangat Lantai III masih Panas.

Saya membayangkan Jawapos TV. Studio kosong. Ruang kontrol gelap. Monitor mati. Kamera berdiri kaku. Seperti prajurit ditinggal panglima. Tulisan sederhana menutup semuanya: “Rest in Power Jawapos TV 2007–2026.”

Kalimat itu lebih tajam dari mantan yang bilang: “Kita cukup sampai di sini.”

Sebenarnya tanda-tanda sudah lama. Bali lebih dulu. 1 Mei 2026. KPID bahkan turun tangan. Sebulan kemudian, pusatnya ikut menyerah.

Alasannya keren: transformasi digital. Kalimat sakti. Televisi tutup? Transformasi digital. Radio mati? Transformasi digital. Iklan kabur? Transformasi digital.

Padahal artinya sederhana: Penonton pindah ke streaming. Pengiklan pindah ke digital. Biaya operasional naik seperti roket kehilangan rem.

Radio pun ikut antre. Sonora, Hard Rock, Raka, Cosmo, Garuda. Satu per satu off air. Kalau radio itu manusia, mungkin sekarang reuni bersama pager, VCD bajakan, dan ringtone polifonik.

Koran masih bertahan. Tapi napasnya megap-megap. Jawa Pos masih terbit. Radar masih hidup. Bahkan meluncurkan portal baru.

Tapi oplah jujur bicara. Dulu ratusan ribu eksemplar per hari. Sekarang angka jadi rahasia. Seperti orang diet ekstrem yang enggan ditimbang.

Inilah zaman paling ironis. Wartawan verifikasi berjam-jam. Influencer cukup angkat alis tujuh detik. Jurnalis mengejar fakta sampai keringat. Konten receh mengejar jutaan penonton dengan joget.

Televisi tumbang. Radio berguguran. Koran menyusut. Sementara algoritma duduk di singgasana digital. Tertawa. Menghitung uang iklan. Dan kita semua menyaksikan pemakamannya. Lewat ponsel. Jangan Marah. Itulah yang terjadi. Berbenah tidak Cukup!. (*)

Sumber: Radar Sukabumi The post Media Gugur appeared first on Radar Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *