Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Sebanyak 150 kepala keluarga (KK) di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mengalami krisis air bersih dan air irigasi sejak saluran utama Daerah Irigasi (DI) Leuwi Bangga jebol akibat banjir bandang tahun lalu. Dampak kekeringan juga menyebabkan sekitar 70 hektare sawah gagal panen selama hampir satu tahun terakhir.
Kerusakan irigasi telah memutus pasokan air ke permukiman dan lahan pertanian warga di Kampung Pondok Tisu, Legok Picung, dan Kamandoran. Menurut warga, aktivitas mengambil air dari sungai menjadi rutinitas harian yang menguras tenaga karena minimnya sumber air tanah. “Air sumur sudah mengering, kami harus berjalan lebih dari satu kilometer untuk mengambil air,” kata Hindun (52), warga Legok Picung.
Tokoh masyarakat Herli (57) menyebut warga kini hanya bisa menanam sayuran dalam skala terbatas, dan produktivitas pertanian menurun drastis. Warga juga mempertanyakan efektivitas bantuan air bersih, yang dinilai hanya bersifat sementara.
Kepala Dusun Legok Picung, Ferdi, menjelaskan bahwa krisis air berdampak pada 13 RT di RW 9 dan RW 10, dengan sekitar 80 persen sumur warga mengering meski memiliki kedalaman 15–20 meter. Ia menambahkan bahwa aktivitas pembangunan proyek jalan tol Bocimi memperparah kondisi resapan air tanah akibat proses cut and fill.
“Kami sudah laporkan ke Dinas PUPR. Rencananya bulan Agustus akan ada sosialisasi teknis untuk perbaikan bendungan dan saluran irigasi,” ujar Ferdi.
Ferdi juga mengungkap bahwa warga masih menunggu realisasi bantuan pengeboran sumur dari pihak tol. Sementara itu, BPBD dan PDAM telah beberapa kali menyalurkan bantuan air bersih menggunakan tangki kapasitas 5.000 liter.
The post Irigasi Jebol, 150 KK Alami Krisis Air dan 70 Hektare Sawah Gagal Panen appeared first on Radar Sukabumi.







