SUKABUMI – Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun tepian Sungai Cimandiri di Kampung Leuwidinding sudah riuh. Belasan anak berseragam sekolah dasar berdiri berdempetan di atas perahu karet. Tangan-tangan mungil mereka mencengkeram sisi perahu, sementara mata mereka lurus menatap riak air sungai selebar 40 meter di depannya.
Di sudut lain, seorang buruh pabrik tampak gelisah memandangi jam tangan, khawatir terlambat presensi.
Pemandangan mendebarkan ini bukan simulasi bencana, melainkan rutinitas harian warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi.
Sudah lebih dari setengah tahun—tepatnya sejak bencana banjir dan longsor menghantam pada 28 Desember 2025 lalu, Jembatan Gantung Leuwidinding yang menjadi urat nadi mereka lenyap tak berbekas.
Sejak saat itu, bertaruh nyawa di atas arus sungai menjadi satu-satunya pilihan rasional demi menyambung hidup.
Bagi warga di sedikitnya delapan RT di Kampung Leuwidinding, putusnya jembatan ini adalah isolasi perlahan. Sungai Cimandiri seolah menjadi dinding pemisah raksasa yang memutus akses mereka ke Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar dan Desa Sirnaresmi di Kecamatan Gunungguruh.
Kepala Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, DiIlah Hablillah, atau yang akrab disapa Abah Ilah, mengungkapkan bahwa warganya dihadapkan pada pilihan yang sama-sama pahit.
“Kalau mau memutar lewat jalur darat, jaraknya hampir enam kilometer. Mereka harus memutar melewati kawasan PT SCG. Bagi anak sekolah dan buruh pabrik, jalur itu terlalu jauh dan memakan waktu serta biaya. Akhirnya, menyeberangi sungai dengan perahu karet menjadi opsi tercepat, meski penuh risiko,” ujar Abah Ilah kepada Radar Sukabumi pada Selasa (14/7).
Mobilitas di atas air ini bak mengundang bahaya. Saat cuaca cerah di hulu, riak Cimandiri mungkin bersahabat. Namun, ketika hujan mulai mengguyur kawasan hulu, debit air bisa melonjak drastis dalam hitungan jam. Arus yang semula tenang berubah menjadi jeram kecokelatan yang siap menggulung apa saja yang melintas.
Dampak sosial dari mandeknya pembangunan jembatan ini kian hari kian memprihatinkan. Sektor pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan warga lumpuh parah. Ironi paling menyayat hati terjadi ketika ada warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat.
Selama enam bulan ini, keselamatan warga sempat bergantung pada bantuan perahu karet dari BPBD Kabupaten Sukabumi. Namun, akibat frekuensi pemakaian yang tinggi, perahu tersebut kini rusak.
Beruntung, Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) TNI Angkatan Laut melalui Dinas Teritorial (Dister) bergerak cepat memberikan bantuan darurat berupa satu unit perahu karet baru beserta pelampung dan dayung. Bantuan ini memperpanjang napas mobilitas warga, meski sifatnya tetap sementara.
Di tingkat pemerintahan desa, upaya bukannya tidak dilakukan. Pihak Pemdes Tanjungsari mengaku sudah mengetuk berbagai pintu birokrasi, termasuk mengajukan permohonan pembangunan kembali jembatan gantung kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi.
Namun, harapan warga tampaknya masih harus tertahan di tumpukan berkas meja dinas. Hingga memasuki pertengahan Juli 2026, belum ada tanda-tanda tiang pancang jembatan baru akan ditancapkan.
“Peninjauan dari instansi terkait memang sudah dilakukan. Mereka datang, melihat, dan mendokumentasikan. Tapi sampai hari ini, belum ada informasi lanjutan kapan pembangunan fisik akan dimulai,” sesal Abah Ilah.
Hamiman Juanda (37), warga setempat, menceritakan bagaimana perjuangan warga saat ada tetangganya yang jatuh sakit. Alih-alih dibawa menggunakan ambulans atau kendaraan roda empat dengan nyaman, pasien harus digotong beramai-ramai.
“Sangat berdampak luar biasa. Bayangkan kalau ada warga yang sakit parah atau melahirkan, kami harus menandu mereka dari kampung, menaikkannya dengan sangat hati-hati ke atas perahu karet, lalu menyeberangi sungai. Ini benar-benar bertaruh nyawa,” keluh Hamiman dengan raut wajah masif cemas.
Warga kini mulai jenuh dengan janji dan peninjauan seremonial. Bagi mereka, setiap hari tanpa jembatan adalah satu hari lagi meminjam keberuntungan dari alam. Mereka hanya meminta hak paling dasar: akses jalan yang aman dan layak untuk masa depan anak-anak mereka.
“Kami sangat berharap pemerintah daerah tidak menutup mata. Jangan tunggu sampai ada korban jiwa hanyut di sungai ini baru jembatan dibangun. Kami butuh kepastian demi keamanan warga,” pungkasnya. (Den)
Artikel Jembatan Leuwidinding Sukabumi Enam Bulan Putus, Ratusan Warga Bergelut dengan Maut pertama kali tampil pada Sukabumi Metro.


