Danantara Siapkan Rp44,75 Triliun untuk Investasi Rantai Pasok Daging

JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai memperluas investasinya ke rantai pasok pangan global. Melalui Danantara Investment Management (DIM), Danantara menyiapkan investasi sebesar US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun untuk membentuk perusahaan patungan dengan JBS Group, perusahaan pengolahan daging asal Brasil.

Dalam kerja sama tersebut, Danantara akan memiliki 25 persen saham, sementara 75 persen saham lainnya dimiliki JBS.

Perusahaan patungan itu nantinya akan mengelola operasional JBS di Australia dan Selandia Baru. Kedua negara tersebut menjadi salah satu pemasok penting daging sapi ke pasar Asia, termasuk Indonesia.

Baca Juga : Resep Es Pokat Kopi, Perpaduan Alpukat dan Kopi yang Segar dan Mengenyangkan

Dikutip sukabumiku.id Senin 10/8/2026. Chief Investment Officer Danantara Pandu Patria Sjahrir mengatakan kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem protein Indonesia dan rantai pasok protein di kawasan Asia Tenggara.f

“Kemitraan ini mencerminkan komitmen Danantara membangun kolaborasi dengan mitra global yang sejalan dengan mandat investasi kami,” ujar Pandu dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).

Investasi Bisa Capai US$5 Miliar

Nilai investasi Danantara dalam kerja sama tersebut masih berpotensi bertambah. Perusahaan patungan itu dapat memperoleh tambahan pembiayaan hingga US$2,5 miliar secara bertahap.

Baca Juga : Resep Sarden Kuah Kemangi, Lauk Praktis Kaya Protein dan Omega-3

Dengan demikian, total modal yang tersedia berpotensi mencapai US$5 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai akuisisi maupun investasi greenfield di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Bagi Danantara, kerja sama ini juga membuka akses terhadap jaringan bisnis, teknologi, standar operasional, serta pengalaman JBS dalam mengelola industri protein berskala global.

Global Chief Executive Officer JBS Gilberto Tomazoni mengatakan kemitraan dengan Danantara menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mengembangkan bisnis di kawasan Asia Tenggara.

JBS sendiri telah memiliki jaringan bisnis di Australia dan Selandia Baru.

Belum Otomatis Kurangi Impor Daging

Meski berpotensi memperkuat rantai pasok protein, investasi Danantara tersebut belum secara langsung mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai manfaat awal kerja sama tersebut lebih terlihat dari akses Indonesia terhadap jaringan dan kemampuan operasional JBS, khususnya di Australia dan Selandia Baru yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan daging sapi Indonesia.

Menurut Yusuf, dampak investasi terhadap industri daging dalam negeri sangat bergantung pada arah penggunaan dana.

Jika investasi lebih banyak digunakan untuk memperkuat bisnis dan rantai pasok JBS di luar negeri, manfaat langsung terhadap peningkatan produksi daging di Indonesia dinilai masih terbatas.

Sebaliknya, dampaknya terhadap pengurangan impor bisa lebih besar apabila perusahaan patungan mengarahkan investasi ke sektor produksi dalam negeri, seperti pengembangan peternakan, pembiakan sapi, pengolahan daging, hingga pembangunan infrastruktur rantai dingin.

Dengan demikian, investasi sekitar Rp44,75 triliun tersebut menjadi langkah Danantara untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok protein global.

Tantangannya, investasi tersebut perlu diarahkan agar turut meningkatkan kapasitas produksi dan ketersediaan pasokan daging di dalam negeri, sehingga manfaatnya tidak hanya berhenti pada penguatan jaringan pasokan global.(SE)

The post Danantara Siapkan Rp44,75 Triliun untuk Investasi Rantai Pasok Daging first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *