KEBONPEDES – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, membuktikan konsistensinya dalam memperkuat perekonomian warga desa.
Meski belum memiliki unit bangunan operasional resmi, koperasi yang berdiri sejak April 2025 ini berhasil memperluas portofolio usahanya, mulai dari distribusi LPG 3 kg, budidaya ayam petelur, penyaluran beras SPHP, hingga penyedia kuota pupuk bersubsidi.
Ketua KDKMP Desa Sasagaran, Ridwan Ali Yusuf kepada Radar Sukabumi menjelaskan, bahwa perkembangan unit usaha koperasi terus berakselerasi. Selain unit bisnis yang berjalan sejak awal, KDKMP Sasagaran kini resmi menjadi kios penyalur pupuk bersubsidi.
“Alhamdulillah ada peningkatan. Sukabumi, kami satu-satunya yang sudah menjadi kios pupuk bersubsidi atas nama KDKMP. Kami juga ada penambahan penyaluran beras SPHP. Mulai 2026, kami memperluas jangkauan dengan memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI khusus bagi para anggota,” ujar Ridwan saat ditemui Radar Sukabumi di lokasi operasional sementara KDKMP Sasagaran, tepatnya di Kampung Cikaret Hilir, Desa Sasagaran pada Minggu (09/08).
Dalam operasional harian, unit usaha gas LPG 3 kg mendatangkan porsi volume terbesar. Ridwan memaparkan, perbulan koperasi mampu menyalurkan hingga 2.800 tabung gas LPG dengan margin net bersih yang diputar kembali untuk operasional dan pengembangan.
Uniknya, KDKMP Sasagaran menerapkan skema khusus terkait Sisa Hasil Usaha (SHU) barang bersubsidi. Seluruh anggota koperasi langsung mendulang manfaat harga lebih murah dari Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Untuk LPG bersubsidi, HET umum ditetapkan Rp19.000 per tabung. Namun khusus anggota, kami lepas di harga Rp18.000. Jadi kemanfaatan SHU dipotong di depan sebesar Rp1.000 per tabung agar anggota merasakan dampak langsung keterlibatan mereka di koperasi,” jelasnya.
Selain LPG, KDKMP Sasagaran mengelola unit pupuk bersubsidi berupa Urea yang dijual seharga Rp90.000 per karung 50 kg dan NPK Phonska senilai Rp92.000 per karung 50 kg. Sementara untuk unit peternakan, koperasi saat ini merawat 52 ekor ayam petelur dengan harga jual telur Rp26.000 per kilogram.
Di balik pertumbuhan bisnisnya, kendala utama yang kini dihadapi KDKMP Sasagaran adalah ketiadaan gedung operasional terpadu. Aktivitas operasional dan gudang penyimpanan barang bersubsidi saat ini menumpang di bangunan milik anggotanya dengan status pinjam pakai tanpa biaya.
“Kami terkendala gedung. Saat ini kami menumpang di lahan dan rumah milik anggota di Kampung Cikaret Hilir. Harapan kami kepada dinas dan instansi terkait, penyesuaian gedung untuk KDKMP Sasagaran dapat segera terealisasi agar ruang gerak usaha dan pelayanan anggota bisa lebih optimal,” tambah Ridwan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Sasagaran, Deni Suwandi kepada Radar Sukabumi menegaskan komitmen pemerintah desa dalam mengawal dan mendukung penuh keberadaan KDKMP.
Mengantongi modal awal dari investor sebesar Rp350 juta serta kontribusi iuran dari 300 anggota aktif, KDKMP Sasagaran berhasil mencatatkan surplus keuntungan bersih mencapai kisaran Rp30 juta per bulan.
“KDKMP Sasagaran ini sudah punya ekosistem hulu ke hilir. Bahkan lewat Peraturan Desa (Perdes) yang disusun bersama BPD, kami mengunci harga LPG di angka HET Rp19.000. Sebelum ada KDKMP, harga LPG di tingkat eceran warga sempat menembus Rp23.000 hingga Rp25.000,” paparnya.
Menanggapi persoalan gedung, Deni menyebutkan bahwa pihaknya telah melayangkan permohonan aset dan lahan. Lahan desa yang dituju saat ini berdiri bangunan ex-PGRI dan gedung Taman Kanak-Kanak (TK).
“Hibah bangunan dari Dinas Pendidikan atau PGRI sudah disetujui. Namun, di atas lahan tersebut masih ada bangunan TK aktif yang harus dicari jalan keluarnya terlebih dahulu. Sinergi antara Kepala Desa dan Ketua Koperasi sangat solid karena KDKMP ini merupakan instrumen utama instruksi pemerintah pusat dalam mengangkat kesejahteraan ekonomi warga desa,” pungkasnya. (Den)
Artikel KDKMP Sasagaran Sukabumi Cetak Margin Puluhan Juta meski Terkendala Gedung pertama kali tampil pada Sukabumi Metro.
