Simposium Kebangsaan Mahasiswa di Sukabumi Dorong Konsolidasi Gerakan dan Gagasan Sukabumi Plus

SUKABUMI – Simposium Kebangsaan Mahasiswa Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Sukabumi mendorong mahasiswa memperkuat kemandirian berpikir sekaligus membangun konsolidasi lintas organisasi untuk merespons persoalan masyarakat.

Kegiatan yang digelar Minggu (23/8/2026) tersebut mengangkat tema “Berdikari dalam Pikiran, Bersatu dalam Perjuangan, Mahasiswa Pelopor Persatuan Bangsa” dan menjadi ruang dialog mahasiswa untuk merefleksikan perjalanan kemerdekaan serta posisi generasi muda dalam kehidupan kebangsaan.

Forum tersebut menilai perjalanan 81 tahun Indonesia telah menghasilkan berbagai capaian, tetapi masih menyisakan persoalan seperti ketimpangan sosial dan ekonomi, pendidikan, kualitas demokrasi, kesempatan kerja, lingkungan, perkembangan teknologi, serta berbagai bentuk ketidakadilan.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Pembatasan Pertalite, Jenis Kendaraan Jadi Salah Satu Acuan

Dalam konteks tersebut, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi konsumen informasi di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, tetapi mampu memeriksa kebenaran, memahami konteks, membangun argumentasi, serta menghasilkan pengetahuan.

“Berdikari dalam pikiran berarti membangun kemandirian intelektual, keberanian berpikir kritis, serta kemampuan untuk mempertanggungjawabkan setiap gagasan berdasarkan pengetahuan dan fakta,” demikian gagasan yang disampaikan dalam simposium tersebut.

Dorong Persatuan Tanpa Hilangkan Identitas

Simposium juga menyoroti pentingnya persatuan mahasiswa di tengah keberagaman organisasi, pemikiran, dan latar belakang.

Persatuan dinilai tidak harus diwujudkan dalam keseragaman, tetapi melalui kesediaan untuk berdialog, menghormati perbedaan, dan bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat serta bangsa.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kecenderungan fragmentasi gerakan mahasiswa di Sukabumi yang dinilai berpotensi melemahkan daya kritis, daya tawar, dan kemampuan mahasiswa dalam merespons persoalan masyarakat.

Baca Juga: Resep Tumis Pare Bawang Putih, Gurih dan Tips Kurangi Rasa Pahit

Dari pembahasan tersebut mengemuka gagasan “Sukabumi Plus”, yakni ruang gerakan bersama yang inklusif dan terbuka bagi berbagai kelompok mahasiswa.

Sukabumi Plus tidak dimaksudkan menggantikan organisasi maupun identitas gerakan yang telah ada, tetapi menjadi titik temu untuk menyatukan agenda bersama dan membangun respons kolektif terhadap persoalan publik.

Ruang tersebut diharapkan dapat mempertemukan berbagai kelompok gerakan mahasiswa, membuka dialog lintas organisasi, membangun tradisi intelektual dan kajian bersama, memperkuat solidaritas, menyusun agenda berdasarkan persoalan rakyat, serta merespons persoalan publik secara kolektif.

Isu Lokal Dikaitkan dengan Persoalan Nasional dan Global

Sukabumi Plus juga diarahkan untuk memperluas cara mahasiswa membaca persoalan, mulai dari isu internasional, nasional hingga kedaerahan.

Mahasiswa Sukabumi didorong memahami persoalan global seperti krisis kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, konflik, perubahan iklim, perkembangan teknologi dan dinamika geopolitik, kemudian menghubungkannya dengan kondisi nasional dan realitas masyarakat di daerah.

Pendekatan yang ditawarkan adalah membangun gerakan dari bawah atau bottom-up, dengan mengangkat persoalan masyarakat untuk didengar, dikaji, didokumentasikan, dikonsolidasikan, kemudian didorong menjadi perhatian publik dan agenda perubahan.

Baca Juga: Wabup Sukabumi Dorong Sapa Isu Daerah Jadi Masukan Pembangunan yang Lebih Merata

Dalam gagasan tersebut, persoalan warga diharapkan dapat berkembang menjadi isu kampus, kemudian isu gerakan mahasiswa, perhatian publik, hingga agenda perubahan dan eskalasi gerakan yang terukur.

“Dari akar rumput kita membaca persoalan. Dari persoalan kita membangun kesadaran. Dari kesadaran kita membangun konsolidasi. Dari konsolidasi kita melakukan eskalasi. Dan dari eskalasi kita mendorong perubahan,” demikian rumusan yang disampaikan dalam forum tersebut.

Libatkan Lintas Organisasi dan Akademisi

Simposium menghadirkan sejumlah narasumber dari organisasi mahasiswa, lembaga kemahasiswaan, dan kalangan akademisi.

Mereka antara lain Aris Gunawan selaku Ketua DPC GMNI Sukabumi Raya, Ade Roni Ronaldo selaku Ketua HMI Sukabumi, Rizki Kurnia selaku Ketua SEMMI Kota Sukabumi, Fahmi Fauzi selaku Ketua PMII Kota Sukabumi, serta Adi Rizki selaku Ketua KAMMI Sukabumi Raya.

Narasumber lainnya yakni Diki Agustiana selaku Ketua IMM Sukabumi Raya, Nuchracha Alhuda Hasnda, S.H., M.H. selaku Dosen Hukum Universitas Nusa Putra, Ahmad Brick Abdul Azis selaku Ketua BEM Universitas Nusa Putra, dan Rahmadi I.M. selaku Koordinator Wilayah Priangan Barat BEMNUS Jabar.

Baca Juga: Kebakaran Lahan Dekat Gunung Jayanti Palabuhanratu, Petugas Berjibaku di Medan Terjal

Selain narasumber, kegiatan diikuti mahasiswa, akademisi, pemuda, aktivis, organisasi kemahasiswaan, komunitas, serta elemen masyarakat lainnya yang memiliki perhatian terhadap masa depan gerakan mahasiswa dan kehidupan kebangsaan.

Forum tersebut juga menegaskan bahwa kepeloporan mahasiswa tidak cukup diwujudkan melalui kritik, tetapi harus mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi gerakan, dan gerakan menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat.

Empat Pokok Pembahasan

Simposium mengangkat empat pokok pembahasan, yakni refleksi 81 tahun kemerdekaan, berdikari dalam pikiran, bersatu dalam perjuangan, serta mahasiswa sebagai pelopor persatuan bangsa.

Melalui forum tersebut, mahasiswa juga didorong menghidupkan kembali tradisi intelektual dan budaya kritis, menjaga independensi berpikir, menolak fragmentasi gerakan, membuka dialog lintas organisasi, serta memperkuat pengabdian kepada masyarakat.

Gagasan Sukabumi Plus turut didorong sebagai ruang konsolidasi, kajian, dialog dan kolaborasi gerakan mahasiswa, dengan pembacaan persoalan yang dimulai dari tingkat internasional, nasional hingga daerah.

Baca Juga: Cuaca Sukabumi Hari Ini 24 Agustus 2026: Berawan, Waspada Hujan Ringan Siang-Sore

Pada akhirnya, simposium menekankan bahwa 81 tahun kemerdekaan harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk tidak sekadar mewarisi kemerdekaan, tetapi ikut mengisinya melalui pikiran yang merdeka, perjuangan yang bersatu, dan keberpihakan kepada rakyat.

“Kita tidak cukup hanya mewarisi kemerdekaan. Kita harus mampu mengisinya dengan pikiran yang merdeka, perjuangan yang bersatu, dan keberpihakan kepada rakyat,” demikian pernyataan dalam simposium tersebut.

The post Simposium Kebangsaan Mahasiswa di Sukabumi Dorong Konsolidasi Gerakan dan Gagasan Sukabumi Plus first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *