
SUKABUMI – Aktivitas warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, tak hanya berfokus pada pembinaan di dalam lingkungan pemasyarakatan. Sejumlah warga binaan juga dilibatkan dalam kegiatan pertanian sebagai bagian dari upaya membangun keterampilan dan kemandirian.
Hasilnya, sebanyak 250 kilogram sawi berhasil dipanen dari lahan pertanian yang dikelola Lapas Kelas IIA Warungkiara.
Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kurnia Panji Pamekas, mengatakan kegiatan pertanian tersebut merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang memberikan kesempatan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk belajar sekaligus menghasilkan produk pertanian.
“Kegiatan pertanian ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Kami ingin mereka tidak hanya menjalani pembinaan, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang bisa menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Kurnia.
Menurut Kurnia, para WBP dilibatkan secara langsung dalam berbagai tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan tanaman hingga proses pemanenan.
“Mereka terlibat langsung dari proses awal sampai panen. Jadi ada pengalaman dan keterampilan yang mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan ini,” katanya.
Panen sebanyak 250 kilogram sawi tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi Lapas Warungkiara dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
Kurnia menegaskan, pemanfaatan lahan di lingkungan Lapas akan terus dioptimalkan untuk kegiatan produktif yang memberikan manfaat, baik bagi pembinaan WBP maupun dalam mendukung ketersediaan pangan.
“Kami akan terus mengoptimalkan lahan yang ada. Harapannya, kegiatan pertanian ini bisa terus berkembang, baik dari sisi jumlah produksi maupun jenis komoditas yang dibudidayakan,” tutur Kurnia.
Ia menilai kegiatan pertanian memiliki nilai penting dalam proses pembinaan karena dapat menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab dan kemandirian kepada warga binaan.
Selain itu, keterampilan di bidang pertanian diharapkan dapat menjadi salah satu modal bagi WBP ketika nantinya kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Hasil panen yang diperoleh selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun disalurkan melalui mekanisme pemasaran yang berlaku.
Menurut Kurnia, keberhasilan panen tersebut menjadi motivasi bagi jajaran Lapas Warungkiara untuk terus mengembangkan program pembinaan berbasis produktivitas.
“Yang paling penting bukan hanya hasil panennya, tetapi proses pembinaan yang berjalan. Kami ingin warga binaan memiliki keterampilan dan pengalaman yang benar-benar bisa mereka manfaatkan setelah bebas nanti,” ujarnya.
Dengan pengembangan program pertanian tersebut, Lapas Warungkiara berupaya menghadirkan pola pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian, tetapi juga meningkatkan kemampuan dan kemandirian warga binaan.
Panen 250 kilogram sawi pun menjadi salah satu gambaran bahwa lahan pemasyarakatan dapat dimanfaatkan sebagai ruang produktif sekaligus sarana pembentukan keterampilan bagi WBP.
Ke depan, Lapas Kelas IIA Warungkiara berkomitmen untuk meningkatkan pengelolaan lahan pertanian serta mengembangkan komoditas lainnya sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan dan program pembinaan kemandirian warga binaan.
The post Produktif di Balik Jeruji, WBP Lapas Warungkiara Berhasil Panen 250 Kg Sawi first appeared on Sukabumi Ku.




