SUKABUMI — Duka mendalam menyelimuti keluarga AR (56), juru parkir Sapa Cafe asal Kampung Selabintana Kulon, Desa Sudajayagirang, Kecamatan Sukabumi. Ia ditemukan tewas bersimbah darah di dalam gorong-gorong pada Minggu (31/8) pagi. Di tengah kesedihan, keluarga menaruh curiga atas kejanggalan yang mengiringi kematian AR, dan menduga ada unsur penganiayaan.
Kisah bermula saat Rita Kartika (53), istri korban, menanti kepulangan suaminya yang biasanya tiba sekitar pukul 03.30 WIB dini hari. Namun, hingga Subuh, AR tak kunjung pulang. Rita dan anaknya langsung mencari ke lokasi kerja, namun tak menemukan jejak.
“Sekitar pukul 05.30 WIB, anak saya melihat sepatu di gorong-gorong. Ternyata benar, itu bapaknya,” ujar Rita dengan suara bergetar, Rabu (3/9).
Jenazah AR dievakuasi dan dibawa ke RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi. Namun, harapan keluarga pupus setelah dokter menyatakan AR telah meninggal dunia.
Kondisi tubuh korban saat ditemukan menimbulkan banyak pertanyaan. Menurut Rita, mata suaminya bengkak dan biru, darah keluar dari telinga kanan, dan terdapat robekan di kepala. Namun, dokter menyebut tidak ada luka lain di tubuh, hanya pecah pembuluh darah di otak.
“Kalau tabrak lari pasti ada lecet atau memar di badan. Ini enggak ada, hanya di kepala. Makanya kami berasumsi ini penganiayaan,” tegas Rita.
The post Misteri Kematian AR di Sukabumi: Dugaan Penganiayaan di Balik Duka Keluarga appeared first on Radar Sukabumi.



















