
JAKARTA — Perkembangan teknologi di sektor industri dinilai turut memengaruhi kemampuan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen mampu menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, kini penyerapan sekitar 300.000 orang sudah dianggap cukup baik.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan karakter industri yang semakin mengandalkan teknologi dalam proses produksi.
“Kalau dulu per 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, hari ini hampir bisa 300.000 itu sudah cukup bagus,” kata Sarmuji di Balai Diklat Industri, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga : Resep Membuat Chia Fresca, Minuman Segar dari Chia Seed dan Lemon
Menurutnya, sejumlah industri yang sebelumnya mengandalkan tenaga kerja dalam jumlah besar kini mulai menerapkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja manusia di beberapa sektor menjadi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
“Yang dulu sangat padat karya, sekarang sudah memasukkan teknologi yang sangat mungkin untuk penyerapan tenaga kerjanya menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Saat ini, sektor industri pengolahan telah menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja. Namun, pertumbuhan industri tidak selalu diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.
Baca Juga : Resep Jamu Pegal Linu, Hangat dan Menyegarkan
Di tengah perubahan tersebut, Indonesia masih memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Pemerintah pun berupaya memperluas peluang kerja, salah satunya melalui penempatan tenaga kerja Indonesia di pasar internasional.
Sarmuji menyebut sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Qatar, dan Singapura, menghadapi stagnasi hingga penurunan jumlah penduduk. Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi pekerja Indonesia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di negara-negara tersebut.
Meski demikian, calon pekerja migran perlu dibekali keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja negara tujuan.
“Salah satu solusinya adalah kita bisa mengirimkan tenaga kerja kita yang terampil untuk mengisi pos-pos yang sebenarnya dibutuhkan bagi negara lain,” jelasnya.
Untuk mendukung langkah tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan kapasitas pelatihan vokasi hingga 11.000 peserta setiap tahun bagi calon pekerja migran Indonesia.
Kemenperin juga akan memperluas kerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Pada 2026, kerja sama tersebut mencakup 1.066 peserta.
Ke depan, program ini akan diperluas melalui inisiatif SMK Go Global. Cakupan pelatihan juga direncanakan menjangkau sektor di luar manufaktur agar calon pekerja migran dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin beragam.
Peluang penempatan pekerja Indonesia di luar negeri dinilai masih terbuka lebar. KP2MI mencatat terdapat sekitar 291.000 peluang kerja di luar negeri pada 2026.
Namun, pekerja Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 25 persen dari total peluang tersebut. Kondisi ini menunjukkan masih adanya ruang untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja terampil yang dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Untuk memperluas pemenuhan kebutuhan tersebut, pemerintah menargetkan pelatihan sebanyak 140.000 peserta secara nasional pada 2027.
Pelatihan akan disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan, baik dari sisi keterampilan teknis maupun kompetensi yang dibutuhkan oleh sektor industri terkait.
Pelaksanaannya akan didukung ekosistem pendidikan dan pelatihan vokasi Kemenperin, yang mencakup politeknik, akademi komunitas, sekolah menengah kejuruan (SMK), serta balai diklat industri.
Melalui penguatan pelatihan vokasi dan perluasan akses pasar kerja internasional, pemerintah berharap tenaga kerja Indonesia dapat memiliki daya saing lebih tinggi sekaligus memanfaatkan peluang kerja yang belum terpenuhi di berbagai negara.(SE)
The post Menperin Sebut Penyerapan Tenaga Kerja per 1 Persen Pertumbuhan Ekonomi Kini Menurun first appeared on Sukabumi Ku.




