SUKABUMI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menemukan cemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur dan sejumlah peralatan makan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1, Yayasan Inti Mandiri Nusantara.
Temuan tersebut diperoleh setelah Dinkes melakukan investigasi menyusul dugaan keracunan yang dialami pelajar dan guru SMKN 1 Gunungguruh setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan penyelidikan epidemiologi, sebanyak 212 orang mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Dari jumlah itu, lima orang sempat menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan seluruh penderita kemudian dinyatakan sembuh.
Baca Juga: Pacarnya Diduga Selingkuh, Pria di Nagrak Sukabumi Ditemukan Tergantung Dalam Kamar
Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan laporan mengenai dugaan keracunan diterima pada Rabu (7/10/2026) pukul 09.14 WIB. Dinkes kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan kesehatan lingkungan di SPPG yang memasok makanan tersebut.
Hasil pemeriksaan menemukan sejumlah persoalan dalam pengelolaan keamanan pangan. Dari 50 penjamah makanan, baru 20 orang yang telah memiliki sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan (PKP).
Selain itu, fasilitas water heater untuk mencuci peralatan makan tidak berfungsi. SPPG juga belum memiliki alat sterilisasi peralatan makan dan belum melakukan pengukuran suhu ruangan yang dilengkapi lembar pemeriksaan suhu.
Dinkes juga menemukan SPPG belum melaporkan pemeriksaan berkala setiap tiga bulan sebagaimana kewajiban yang tercantum dalam Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Baca Juga: PERSIB Buka Dialog dengan Delegasi Kamerun, Bahas Masa Depan Pembinaan Talenta Sepak Bola
“SPPG tidak melaporkan kewajiban mitra yang tertuang di SLHS setiap tiga bulan, yaitu pemeriksaan sampel air, makanan, dan inspeksi kesehatan lingkungan,” ujar Masykur kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).
Kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), mulai dari penerimaan bahan pangan hingga proses distribusi makanan, juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam pemeriksaan tersebut.
Dari 212 orang yang tercatat mengalami gejala, sebanyak 204 orang atau 96,23 persen mengalami sakit perut. Kemudian 184 orang atau 86,79 persen mengalami diare dan 159 orang atau 75 persen merasakan perut melilit.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa dan guru serta observasi terhadap makanan, terdapat sejumlah menu MBG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut, yakni dimsum mentai, kentang atau potato wedges, tumis kol, susu UHT rasa vanila, dan kelengkeng.
Baca Juga: 5 Bahan Alami untuk Menghilangkan Bau Kulkas, Mudah Didapat dan Praktis Digunakan
Menu tersebut diterima pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB dan dikonsumsi sekitar pukul 12.30 WIB.
“Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi dengan metode wawancara dan observasi pada penderita, baik guru maupun siswa, didapatkan keterangan bahwa dimsum mentai dan kentang (potato wedges) memiliki kondisi tidak matang, berbau, berasa asam, dan berlendir,” kata Masykur.
Namun, Dinkes tidak dapat melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel makanan tersebut karena laporan kejadian baru diterima pada 7 Oktober 2026. Sementara sampel makanan hanya disimpan dalam bank sample selama 2 x 24 jam.
Karena itu, keterkaitan menu tersebut dengan kejadian sakit belum dapat dipastikan melalui pengujian laboratorium.
Untuk mencari potensi sumber kontaminasi, Dinkes mengambil sampel air dan melakukan pengusapan pada peralatan makan pada Kamis (8/10/2026). Sampel kemudian dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Sukabumi pada Jumat (9/10/2026).
Baca Juga: Hasim Adnan Dorong Nilai-Nilai Santri Tak Berhenti di Lingkungan Pesantren
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya cemaran E. coli pada air yang berasal dari sumur serta sejumlah peralatan makan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya cemaran bakteri E. coli pada air sumur dan peralatan makan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1 Yayasan Inti Mandiri Nusantara,” ujar Masykur.
Air sumur tersebut diketahui digunakan dalam proses pencucian peralatan makan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, angka E. coli pada air sumur tercatat 100, sementara nilai ambang batas yang dipersyaratkan adalah nol.
Cemaran juga ditemukan pada sejumlah peralatan makan dan perlengkapan pengolahan makanan. Hasil pemeriksaan menunjukkan angka pada pisau sebesar 17, talenan 18, dan ompreng atau wadah makan 111.
Baca Juga: Hasim Adnan Dorong Perfilman Jadi Bagian dari Penguatan Kebudayaan Indonesia
Seluruh hasil tersebut dilaporkan melampaui standar baku mutu kesehatan lingkungan yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023.
Sementara itu, sampel air minum yang berasal dari depot isi ulang dinyatakan negatif atau tidak ditemukan bakteri E. coli.
Meski menemukan cemaran pada air sumur dan peralatan makan, hasil pemeriksaan tersebut belum secara otomatis membuktikan bahwa E. coli merupakan penyebab pasti seluruh kasus yang dialami siswa dan guru.
Atas temuan tersebut, Dinkes Kabupaten Sukabumi meminta pengelola SPPG menghentikan penggunaan air sumur untuk pengolahan pangan maupun kegiatan sanitasi. Sumber air harus diganti dengan air yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Penggunaan air minum isi ulang juga diminta berasal dari depot yang memiliki SLHS serta memenuhi persyaratan berdasarkan pemeriksaan laboratorium.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kota Sukabumi Senin 19 Oktober 2026, Cek Kondisi di 7 Kecamatan
Dinkes turut meminta seluruh relawan dan penjamah makanan mengikuti Pelatihan Keamanan Pangan. Pengelola juga diminta memperbaiki water heater, mengoperasikan alat sterilisasi ompreng, menyediakan alat pengukur suhu, serta memastikan grease trap atau perangkap lemak berfungsi.
Pengawasan penerapan SOP juga perlu diperketat, termasuk penggunaan alat pelindung diri, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, pengolahan bahan pangan hingga distribusi makanan.
SPPG juga diminta melaporkan hasil pemeriksaan rutin setiap tiga bulan kepada puskesmas dan Dinkes sesuai ketentuan.
Di sisi lain, sekolah dan puskesmas diminta meningkatkan edukasi kepada guru, siswa, wali murid serta karyawan SPPG mengenai kebersihan diri, sanitasi pangan dan pengelolaan makanan yang aman.
Dinkes juga meminta puskesmas mengaktifkan kembali Satgas MBG, melakukan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh serta mempercepat pelaporan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), khususnya pada menu Event-Based Surveillance (EBS).
Inspeksi kesehatan lingkungan secara berkala setiap bulan juga direkomendasikan untuk memastikan standar higiene dan sanitasi di SPPG tetap terpenuhi.
The post Keracunan MBG di Gunugguruh Sukabumi, Dinkes: Air Sumur dan Peralatan Makan di SPPG Positif E Coli first appeared on Sukabumi Ku.
