INILAHSUKABUMI.COM – Aroma tanah basah masih terasa pagi itu di kawasan industri Cikembar. Hujan deras yang mengguyur sehari sebelumnya membuat lintasan di Sirkuit Hidzie tampak lembab dan licin. Namun, ketika matahari mulai muncul dari balik bukit sebelah timur, suara mesin balap kembali menggema, menandai dimulainya Kejurnas Sprint Rally 2025 Putaran ke-4. Penutup musim balap nasional yang kali ini berlangsung di Sukabumi.
Wartawan inilahsukabumi.com menyaksikan semua suasana itu. Di tengah debu yang bercampur dengan sisa lumpur karena guyuran hujan Sabtu malam, para pereli bersiap. Salah satunya adalah Berlin Sumadi, Komisaris PT Bogorindo Cemerlang. Sosok yang tak hanya menyediakan lahan untuk ajang ini, tapi juga ikut turun langsung menaklukkan lintasan yang ia bangun sendiri.
“Semalam hujan besar sekali, lintasan sempat becek. Tapi pagi ini cerah, Alhamdulillah semuanya siap,” ujar Berlin sambil tersenyum, sesaat sebelum mengenakan helm dan masuk ke dalam mobil balapnya, Minggu (9/11/2025).
Bagi Berlin, ajang ini bukan sekadar tentang siapa yang tercepat. Ini adalah bentuk nyata dari keyakinannya bahwa dunia otomotif bisa menjadi pemantik semangat baru bagi Sukabumi.
“Dulu lahan ini kosong, hanya ilalang dan rumput liar lainnya. Sekarang, setiap kali ada event seperti ini, ribuan orang datang. Ada penjual makanan, ada anak muda yang bantu panitia. Hidup rasanya lebih ramai,” tuturnya.
Hujan yang mengguyur sehari sebelumnya justru menambah keseruan. Lintasan menjadi lebih menantang. Beberapa mobil sempat tergelincir, lumpur beterbangan ke segala arah, dan penonton menjerit antusias setiap kali mobil melewati tikungan tajam.
“Balapan di kondisi seperti ini justru menguji kemampuan pembalap. Kalau lintasan kering itu biasa, tapi kalau licin, butuh fokus dan feeling,” ujar Berlin.
Di sela-sela riuhnya mesin, kehidupan warga sekitar pun ikut bergerak. Di pinggir lintasan, Ibu Siti, penjual minuman, tersenyum sambil melayani pembeli.
“Semalam hujan, saya pikir acara batal. Eh ternyata tetap jalan, malah lebih ramai dari kemarin. Lumayan, dagangan laris,” akunya.
Berlin menatap suasana itu dengan bangga. Bagi dirinya, setiap senyum warga adalah bukti bahwa sirkuit ini bukan hanya tentang olahraga, tapi juga tentang manfaat sosial dan ekonomi.
“Kalau masyarakat bisa ikut merasakan dampaknya, itu kemenangan yang sebenarnya,” ujarnya.
Meski sukses digelar, Berlin menyadari masih banyak yang perlu dibenahi, terutama soal fasilitas.
“Tempat penginapan terdekat masih di Kota Sukabumi. Harapan saya, ke depan ada investor yang mau bangun hotel atau tempat wisata di sekitar sini,” kata pria yang wajahnya ketimur-tengahan itu.
Menjelang sore, matahari kembali tenggelam di balik bukit Cikembar. Debu dan lumpur yang menempel di mobil-mobil peserta menjadi saksi betapa kuatnya semangat para pereli dan warga Sukabumi dalam menghadapi tantangan.
Bagi Berlin, hujan bukan penghalang. Justru simbol dari keberanian untuk terus melaju, seberat apa pun lintasannya.
“Kalau lintasan becek, mobil tetap jalan. Begitu juga hidup. Selama ada kemauan, kita pasti sampai di garis finish,” tutupnya sambil tersenyum. (*)
The post Melihat Lumpur, Perjuangan, dan Mimpi Berlin Sumadi di Sirkuit Hidzie Cikembar-Sukabumi first appeared on Inilah Sukabumi.



















