Sumber: Radar Sukabumi
BANK itu memang punya wajah seribu. Kadang tampak ramah, kadang seperti malaikat penolong. Tapi jangan salah, ia bisa berubah jadi penagih yang dingin, bahkan terasa seperti penjahat. Semua tergantung satu hal: apakah cicilan dibayar tepat waktu atau tidak.
Awal tahun 2026, wajah dingin itu benar-benar dirasakan ASN di Sukabumi. Gaji mereka telat masuk. Bukan sehari, bukan dua hari. Sampai pertengahan Januari, rekening masih kosong. Padahal cicilan bank tidak pernah kenal kata “telat”. Bank tetap menagih. Dapur tetap harus berasap. Anak tetap harus bayar sekolah. Motor tetap butuh bensin. Hidup ASN ternyata sama saja dengan rakyat biasa: terikat pada tanggal jatuh tempo.
Bayangkan seorang ASN yang setiap bulan sudah menghitung-hitung gaji. Begitu tanggal 1, ia sudah tahu ke mana uang itu akan pergi. Cicilan rumah, cicilan motor, cicilan HP. Semua sudah antre. Begitu gaji telat, antrean itu berubah jadi keributan. Telepon dari bank masuk, pesan dari debt collector berdatangan, sementara di rumah anak bertanya kenapa uang sekolah belum dibayar.
Sekda Sukabumi, Ade Suryaman, buru-buru memberi penjelasan. Katanya bukan karena uang tidak ada. Dana tersedia. Masalahnya ada di administrasi anggaran awal tahun. Prosedur birokrasi yang berbelit membuat gaji ASN tersangkut di meja-meja. Penjelasan itu masuk akal, tapi tidak cukup menenangkan. Karena bagi ASN, gaji bukan sekadar angka di rekening. Ia adalah napas kehidupan.
Budaya kredit memang sudah mendarah daging. ASN, seperti banyak orang Indonesia lainnya, hidup dengan cicilan. Rumah belum lunas, motor masih kredit, bahkan ponsel pun dibayar angsuran. Semua menunggu tanggal gajian. Begitu gaji telat, sistem hidup mereka runtuh. Stres muncul, rasa tidak aman menghantui.
Dan kalau ini berulang, risikonya besar. ASN bisa kehilangan kepercayaan pada pemerintah. Kalau ASN sudah tidak percaya, bagaimana mereka bisa bekerja dengan tenang melayani masyarakat? Pelayanan publik bisa terganggu hanya karena satu hal sederhana: gaji telat.
Kasus Sukabumi ini bukan sekadar cerita lokal. Ia adalah cermin rapuhnya sistem keuangan pribadi dan birokrasi daerah. ASN butuh gaji tepat waktu. Pemerintah butuh pegawai yang tenang. Dan masyarakat butuh pelayanan publik yang tidak terganggu.
Gaji telat sehari mungkin dianggap sepele oleh pejabat. “Ah, nanti juga cair,” begitu kira-kira. Tapi bagi ASN yang hidup dari cicilan, sehari itu bisa terasa seperti sebulan. Sehari itu bisa berarti telepon dari bank, teguran dari sekolah anak, bahkan pertengkaran kecil di rumah.
The post Gaji Telat, ASN Sukabumi Terjerat Cicilan appeared first on Radar Sukabumi.



















