INILAHSUKABUMI.COM – Tangis itu pecah tanpa bisa ditahan. Di hadapan keranda yang membungkus tubuh kecil putranya, Lisnawati hanya bisa terduduk lemah. Empat tahun lamanya ia terpisah dari anak yang dilahirkannya, dan pertemuan yang ia bayangkan penuh pelukan hangat justru berubah menjadi perpisahan terakhir yang menyayat hati.
Kabar duka itu datang tiba-tiba. Lisnawati, yang tinggal di Cianjur, menerima pesan dari mantan suaminya, Anwar Satibi, yang mengabarkan bahwa putra mereka, Nizam Safei atau NS (12), sedang dirawat di RSUD Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, karena sakit paru-paru. Tanpa berpikir panjang, ia segera berangkat, menempuh perjalanan dengan harapan masih bisa melihat anaknya dalam keadaan hidup.
Namun harapan itu sirna setibanya di Sukabumi. Alih-alih menemukan putranya di ruang perawatan, Lisnawati justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Tubuh NS telah terbujur kaku. Jenazahnya bahkan telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa untuk menjalani otopsi dan visum.
Kuasa hukum Lisnawati, Mira Widyawati, mengungkapkan bahwa keterlambatan perjalanan membuat Lisnawati kehilangan kesempatan terakhir untuk menatap mata putranya.
“Karena butuh waktu dari Cianjur ke Sukabumi, Ibu Lisna kehilangan kesempatan untuk melihat putranya dalam kondisi masih hidup. Saat tiba, jenazah sudah dibawa untuk proses otopsi. Ketika mengetahui hal itu, beliau sangat terpukul dan tidak bisa menerima,” ujar Mira.
Di ruang duka, kesedihan Lisnawati berubah menjadi luka yang lebih dalam. Ia melihat tubuh putranya dalam kondisi memprihatinkan, dengan luka lebam dan bekas luka bakar yang terlihat jelas. Pemandangan itu meninggalkan tanda tanya besar sekaligus kepedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Bagi Lisnawati, Nizam bukan sekadar anak. Ia adalah bagian dari hidup yang pernah ia rawat dan besarkan dengan penuh kasih. Sejak lahir hingga berusia tujuh tahun, NS tinggal bersama ibunya. Masa kecilnya diisi dengan kebersamaan sederhana, sebelum akhirnya jalan hidup membawa mereka pada perpisahan.
Setelah berusia tujuh tahun, NS dibawa oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren di kampung halaman sang ayah. Keputusan itu, menurut Mira, diambil dengan alasan agar anak lebih mudah dipantau. Namun, sejak saat itu, hubungan antara ibu dan anak perlahan terputus.
Perceraian yang terjadi saat NS masih bayi menjadi awal renggangnya hubungan keluarga tersebut. Lisnawati dan Anwar berpisah setelah rumah tangga mereka dilanda konflik. Bahkan, menurut keterangan kuasa hukum, Lisnawati pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga saat mengandung NS.
Situasi itu membuat komunikasi antara Lisnawati dan putranya semakin menjauh. Selama empat tahun terakhir, Lisnawati tidak lagi mendapatkan kabar tentang anaknya. Lebih menyakitkan lagi, Lisnawati baru mengetahui bahwa selama ini anaknya disebut telah kehilangan ibu kandungnya.
“Selama ini berkembang informasi bahwa ibu kandungnya sudah meninggal dunia. Padahal kenyataannya, ibunya masih ada dan sangat merindukan anaknya,” kata Mira.
Kerinduan yang selama ini tersimpan akhirnya menemukan jalannya, tetapi bukan dalam pertemuan yang diharapkan. Di hadapan keranda, Lisnawati hanya bisa menangis, meratapi takdir yang mempertemukan mereka kembali dalam sunyi dan kehilangan.
Kini, yang tersisa hanyalah kenangan dan penyesalan. Seorang ibu yang kehilangan kesempatan memeluk anaknya untuk terakhir kali, dan seorang anak yang pergi tanpa sempat merasakan kembali kehangatan pelukan ibunya. (*)
Redaktur: Redi Rustandi
The post Ketika Tangis Ibu Kandung NS Pecah di Depan Keranda Mayat first appeared on Inilah Sukabumi.



















