INILAHSUKABUMI.COM – Langit Bojonggenteng sore itu mendadak muram. Awan hitam bergulung cepat, seolah menandakan sesuatu yang tak biasa akan datang. Tak lama, hujan deras turun dengan suara memekakkan telinga, namun bukan sekadar air. Butiran es sebesar kelereng menghantam atap rumah warga, disusul hembusan angin berputar kencang yang meluluhlantakkan apa pun di hadapannya.
Dalam hitungan menit, tiga kampung di Desa Bojonggaling, Kampung Parigi, Pasir Kuntul, dan Kampung Pasir Haur berubah menjadi lautan puing. Genting beterbangan, pohon tumbang menimpa rumah, dan tiang listrik patah berserakan di jalan. Warga berlarian keluar rumah, menggandeng anak, menentang hujan dan angin demi menyelamatkan diri.
“Kami semua ketakutan, anginnya kencang sekali. Genting pada beterbangan, air masuk dari semua arah,” tutur Rohimah (40), warga Kampung Pasir Kuntul, matanya basah menatap rumah yang kini tanpa atap.
Di antara reruntuhan kayu dan genting pecah, ia berusaha menyelamatkan pakaian dan dokumen penting yang masih bisa dijangkau.
Suasana sore itu kian mencekam. Tangisan anak-anak berpadu dengan deru angin. Para ibu berusaha menenangkan, sementara para ayah bergotong royong menyingkirkan pohon tumbang yang menutup jalan. Di Kampung Parigi, beberapa rumah roboh tertimpa pohon besar.
“Kami bantu yang rumahnya roboh, malam ini banyak warga tidak bisa tidur di rumah sendiri,” kata Asep (45), warga setempat, sambil menyalakan lampu darurat dari baterai seadanya.
Di Kampung Pasir Haur, malam turun dengan kegelapan total. Listrik padam sejak sore, kabel listrik terputus dihantam dahan pohon. Warga menyalakan lilin dan lampu senter, berkumpul di rumah yang masih utuh. Sebagian lainnya mengungsi ke rumah saudara.
“Yang penting kami semua selamat. Tapi kami mohon, semoga ada bantuan untuk memperbaiki rumah kami yang sudah hancur,” ujar Sartinah (35), warga yang rumahnya tertimpa pohon jengjeng. Ia kini menumpang bersama anaknya di rumah orang tua.
Dari kejauhan, lampu kendaraan relawan tampak menembus kabut malam. Tim BPBD Kabupaten Sukabumi mulai tiba, menyalurkan bantuan darurat dan melakukan asesmen awal.
“Kejadiannya kemarin di tiga kecamatan, yaitu Bojonggenteng, Parungkuda, dan Parakansalak. Data sementara, sudah lebih dari 70 rumah terdampak di dua desa,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Sukabumi, Deden Sumpena.
Menurut Deden, hujan es yang disertai angin puting beliung merupakan fenomena langka di Sukabumi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk waspada menghadapi musim hujan yang mulai disertai angin kencang. Hindari daerah rawan longsor dan pohon besar di sekitar rumah,” tegasnya.
Kini, sehari setelah badai reda, udara Bojonggenteng terasa lebih dingin dari biasanya. Di antara puing dan genting berserakan, warga mulai bangkit. Para ibu menjemur pakaian yang basah, anak-anak membantu mengumpulkan sisa-sisa papan yang masih bisa dipakai.
Musibah itu memang meninggalkan luka, tapi juga menghadirkan sesuatu yang berharga, semangat gotong royong dan keteguhan untuk bertahan. Di balik langit kelabu dan rumah yang hancur, masih tersimpan keyakinan bahwa kehidupan bisa perlahan dibangun kembali, setapak demi setapak. (*)
The post Di Balik Gemuruh Langit Bojonggenteng: Kisah Warga Bertahan di Tengah Puting Beliung dan Hujan Es first appeared on Inilah Sukabumi.



















