
Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI – Di Kampung Cicohag, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, suara ritmis dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) masih bergema. Di balik bunyi kayu itu, tersimpan kisah Wignyo Rahadi (54), desainer yang menjadikan tenun tradisional sebagai jalan hidup dan jembatan budaya Indonesia ke dunia.
Sejak mendirikan Tenun Gaya pada tahun 2000, Wignyo tak hanya menciptakan busana, tapi juga merawat warisan wastra Nusantara. Ia terlibat penuh dalam proses kreatif—dari pewarnaan benang, penentuan motif, hingga menenun sendiri kainnya. “Setiap helai tenun harus bisa bercerita,” ujarnya.
Tenun Gaya bukan sekadar brand, melainkan gerakan budaya. Karya Wignyo telah tampil di panggung internasional, termasuk Paris Fashion Week 2024. Meski pasar utamanya di Jakarta dan luar negeri, Sukabumi tetap menjadi rumah. Workshop di Cisaat kini menjadi destinasi studi banding dari berbagai daerah.
Pandemi sempat memukul produksi, mengurangi jumlah karyawan dari 250 menjadi 150 orang. Namun semangat berkarya tak pernah padam. “Nilai seni lebih utama daripada kuantitas,” tegasnya.
Kepercayaan terhadap Wignyo datang dari berbagai kalangan, termasuk Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga, serta istri para menteri. Sejak 2004, ia menjadi desainer pribadi SBY dan hingga kini masih dipercaya.
The post Dipercaya Presiden, Dikenal Dunia: Tenun Gaya Sukabumi Jadi Simbol Budaya appeared first on Radar Sukabumi.



















