BERITA SUKABUMI – Ribuan peziarah datang silih berganti ke Astana Eyang Santri di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Doa dipanjatkan, sejarah diceritakan dari mulut ke mulut, dan kawasan itu kini dikenal sebagai wisata religi. Namun di balik ramainya aktivitas ziarah, jejak historis Eyang Santri masih menyisakan ruang kosong. Minimnya dokumentasi tertulis membuat kisah tokoh ulama ini berada di antara fakta sejarah dan tradisi lisan yang belum sepenuhnya terverifikasi.
Penelusuran inilahsukabumi.com menunjukkan bahwa sebagian besar informasi mengenai Eyang Santri bersumber dari cerita turun-temurun masyarakat setempat. Narasi tersebut diwariskan oleh para sesepuh kampung, juru kunci makam, hingga tokoh agama lokal. Meski memiliki kesamaan garis besar, detail kisah yang berkembang kerap berbeda satu sama lain, terutama terkait asal-usul, masa hidup, dan peran Eyang Santri dalam sejarah perjuangan dan dakwah Islam di Sukabumi.
Ketiadaan arsip tertulis resmi, baik dari catatan kolonial maupun dokumen keagamaan, membuat proses verifikasi sejarah menjadi tidak mudah. Hingga kini, belum ditemukan naskah primer yang secara eksplisit mencatat aktivitas Eyang Santri selama menetap di Girijaya. Kondisi ini menjadikan Eyang Santri sebagai figur historis yang hidup kuat dalam ingatan kolektif, tetapi lemah dalam dokumentasi akademik.
Meski demikian, pengaruh Eyang Santri terhadap masyarakat Girijaya tidak terbantahkan. Ia dikenang sebagai ulama yang mengajarkan nilai-nilai keislaman, kesederhanaan, dan keteguhan sikap. Jejak pengaruh tersebut tercermin dari kuatnya tradisi keagamaan masyarakat setempat, serta konsistensi kawasan Astana Girijaya sebagai pusat ziarah sejak puluhan tahun lalu.
Investigasi juga menemukan bahwa status Astana Eyang Santri hingga kini belum ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Pengelolaan kawasan masih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, tanpa payung hukum yang kuat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait perlindungan jangka panjang situs bersejarah tersebut, terutama di tengah meningkatnya jumlah peziarah dan wisatawan.
Sejumlah pemerhati sejarah lokal menilai, penting adanya kajian ilmiah yang melibatkan akademisi, sejarawan, dan lembaga terkait untuk menelusuri jejak Eyang Santri secara lebih sistematis. Penelusuran arsip, manuskrip lama, hingga sumber kolonial dinilai dapat membuka tabir sejarah yang selama ini tertutup oleh keterbatasan data.
Di sisi lain, masyarakat Girijaya berharap pengembangan wisata religi tetap menghormati nilai sakral kawasan makam. Mereka menekankan bahwa Astana Eyang Santri bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang spiritual dan simbol perjalanan sejarah Islam di Sukabumi yang perlu dijaga keasliannya.
Hingga kini, Eyang Santri tetap hadir dalam dua wajah: sebagai tokoh spiritual yang dihormati dan sebagai figur sejarah yang masih menyisakan tanda tanya. Di antara doa para peziarah dan langkah wisatawan, kisahnya menunggu untuk dituliskan secara lebih utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara sejarah. (*)
Redaktur: Rendi Rustandi
The post Eyang Santri Sukabumi, Jejak Ulama di Desa Girijaya first appeared on Inilah Sukabumi.



















