Sumber: Radar Sukabumi
DALAM konstelasi sosial-keagamaan, seorang Dzurriyah guru yang memegang estafet warisan datuknya kerap dipandang melalui lensa figurasi.
Namun, terdapat sebuah aksioma fundamental yang harus dipahami: matahari tidak berhenti memancarkan cahaya hanya karena sekumpulan awan menghalangi pandangan manusia di bumi.
Begitu pula roda keagamaan, baik dalam bentuk lembaga formal maupun pergerakan kemasyarakatan, memiliki daya gerak intrinsik yang melampaui sekadar pengakuan dari alumni maupun warga. Fenomena ketidak-difiguran ini bukanlah hambatan, melainkan proses pemurnian terhadap gerak dakwah yang sesungguhnya.
Dalam perspektif ilmu Mantiq, pisau analisis Al-Kulliyat al-Khamsah dan struktur Qiyas digunakan untuk menyingkap kejernihan masalah. Keberlangsungan warisan Datuk adalah substansi perjuangan, sedangkan figurasi hanyalah aksidensi yang sifatnya berubah-ubah.
Hilangnya aksidensi tidak membatalkan substansi. Silogisme Burhani menegaskan bahwa setiap pergerakan yang berlandaskan ikhlas dan ketersambungan ilmu digerakkan oleh Inayatullah. Warisan Datuk yang dilanjutkan oleh Dzurriyah mengandung potensi ikhlas dan kesinambungan ilmu, sehingga pergerakan itu akan tetap berjalan meskipun pengakuan sosial bernilai nol.
Ketergantungan roda keagamaan pada figurasi alumni adalah bentuk kekeliruan, sebab illat berjalannya roda ini adalah janji Allah menjaga agama-Nya, bukan konsensus manusia.
Tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah menegaskan bahwa penghormatan kepada Dzurriyah adalah kewajiban berdasarkan mahabbah, sementara keberlangsungan dakwah merupakan hukum alamiah dari barakah. Syekh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam menjelaskan bahwa jika Allah menempatkan seorang Dzurriyah dalam kedudukan warisan, maka roda itu bergerak atas kehendak-Nya, bukan restu manusia.
Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan pentingnya sanad, dan ketidak-difiguran alumni hanyalah ujian adab, bukan pengurangan martabat ilmu. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa agama adalah penegakan kebenaran, dan kebenaran tidak dikenal melalui tokoh, melainkan tokoh dikenal karena kebenarannya.
Fenomena ini dalam bahasa sastra disebut Al-Khidmah fi al-Khafa’, pengabdian dalam kesenyapan. Warisan kenabian bukanlah takhta yang dibangun oleh opini publik, melainkan akar yang merunjam ke dalam bumi. Jika manusia tidak menyadari batang pohonnya, buah tetap matang dan bayang-bayang tetap meluas.
Roda yang digerakkan oleh keikhlasan tidak membutuhkan tepuk tangan, dan kapal yang dipandu oleh sanad tidak akan dirugikan oleh dinginnya ombak.
Secara modern, karisma personal harus dibedakan dari legitimasi struktural-spiritual. Ketika alumni tidak mefigurkan Dzurriyah, yang hilang hanyalah koneksi emosional, sementara organisasi keagamaan tetap berjalan karena sistem kemandirian yang dibangun oleh Datuk. Warisan Datuk bukan sekadar nama besar, melainkan manhaj.
Selama Dzurriyah memegang manhaj, ia mengoperasikan mesin dakwah yang tidak bisa dihentikan oleh absennya pengakuan individu. Justru, kondisi tidak difigurkan membuka peluang meraih derajat ikhlas paling murni—bekerja hanya untuk Allah.
Roda keagamaan adalah perpanjangan tangan Inayah Tuhan. Menganggap roda itu terhenti karena figurasi adalah kesombongan intelektual. Pesan bagi alumni dan warga: berhati-hatilah, karena keberkahan ilmu sering terselip pada keridhaan Dzurriyah yang kalian abaikan.
Pesan bagi Dzurriyah: teruslah berputar, sebab warisan datukmu bukan panggung, melainkan khidmah. Biarkan roda itu melindas keraguan dengan amal nyata. Pada akhirnya, kedaulatan warisan keagamaan terletak pada istiqamah, bukan pada anggapan baik manusia. Roda itu akan terus berjalan, menembus zaman, membawa cahaya yang takkan padam oleh tiupan kebencian maupun pengabaian.(*)
PENULIS : Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal
The post Figurasi dan Substansi: Dialektika Warisan Keagamaan appeared first on Radar Sukabumi.













