SUKABUMI – Di balik seremoni peletakan batu pertama yang dilakukan Danrem 061/SK, Thomas Rajunio, tersimpan cerita panjang tentang keterisolasian warga dan harapan yang akhirnya mulai terjawab.
Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Sukamaju, Kecamatan Cimanggu, bukan sekadar proyek infrastruktur. Bagi warga Kampung Cinagrog dan Kampung Batusapi, jembatan ini adalah solusi atas akses yang selama ini terputus terutama sejak banjir besar pada Desember 2024 yang merusak jalur penghubung antarwilayah.
Dengan panjang 51 meter dan lebar 120 cm, jembatan ini dirancang untuk membuka kembali jalur vital masyarakat. Namun lebih dari itu, kehadirannya diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi lokal yang sempat terhambat akibat keterbatasan akses.
Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Liga Champions: Penentuan Tiket Semifinal Digelar Pekan Ini
“Dulu kami harus memutar jauh atau bahkan menyeberang dengan risiko tinggi. Sekarang, harapan itu mulai terlihat,” ungkap salah satu warga setempat.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah pusat untuk menjangkau wilayah perintis. Dalam pelaksanaannya, TNI AD dipercaya sebagai ujung tombak pembangunan, sekaligus memastikan proses berjalan cepat dan tepat sasaran.
Danrem 061/SK menegaskan bahwa pembangunan ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang menghadirkan negara di tengah masyarakat yang selama ini berada di pinggiran pembangunan.
“Kami ingin memastikan masyarakat di pelosok juga merasakan manfaat pembangunan. Ini bukan hanya jembatan, tapi penghubung harapan,” ujarnya.
Baca Juga: Puncak Peringatan HPN 2026 PWI Kabupaten Sukabumi, Momentum Tingkatkan Literasi Generasi Muda
Bupati Sukabumi, Asep Japar, yang turut hadir, menilai proyek ini akan membawa dampak signifikan bagi mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi desa.
Namun ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat.
Sementara itu, Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi, Agung Ariwibowo, menargetkan pembangunan rampung dalam waktu 30 hari. Ia menekankan pentingnya gotong royong sebagai kekuatan utama percepatan pembangunan di lapangan.
Baca Juga: Sekber Sagaranten Diresmikan, Jadi Simbol Kolaborasi dan Penguat Harmoni Warga
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi momentum melihat geliat pembangunan lain di wilayah tersebut, seperti progres Koperasi Desa Merah Putih yang hampir rampung. Hal ini menandakan bahwa pembangunan di Cimanggu mulai bergerak secara terintegrasi, tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga sektor ekonomi dan sosial.
Di penghujung kegiatan, prosesi pelepasan ikan di Sungai Ciseureuh menjadi simbol harapan baru bagi warga. Sungai yang dulu menjadi saksi terputusnya akses, kini menjadi bagian dari cerita bangkitnya konektivitas desa.
Jika pembangunan berjalan sesuai target, Jembatan Perintis Garuda bukan hanya akan menghubungkan dua kampung, tetapi juga membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar di wilayah selatan Sukabumi.
The post Jembatan Perintis Garuda: Dari Akses Terputus Menuju Harapan Baru Warga Cimanggu first appeared on Sukabumi Ku.







