BERITA SUKABUMI – Di sudut rumah sederhana di Kecamatan Cikembar, isak tangis masih terdengar lirih. Foto seorang anak perempuan berseragam sekolah terbingkai rapi di meja ruang tamu, dikelilingi bunga dan doa yang tak henti-henti dipanjatkan. Ia bukan sekadar siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) biasa, kini namanya menjadi simbol jeritan keadilan di tengah duka mendalam.
Keluarga korban akhirnya memecah keheningan. Mereka menuntut agar kasus dugaan bullying yang menimpa sang anak diusut tuntas, tanpa ada jalan damai.
“Ini nyawa manusia, bukan nyawa ikan. Jangan ada damai-damaian,” ujar Topick Wallhidayat (35), salah satu anggota keluarga korban, dengan nada tegas saat ditemui inilahsukabumi.com, Sabtu (1/11/2025).
Menurut Topick, sebelum peristiwa tragis itu terjadi, korban sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan batin. Kepada sang ibu, ia sering mengeluh tidak nyaman di sekolah.
“Katanya udah gak nyaman sama teman-temannya. Ibunya sempat bilang ke wali kelas, tapi katanya harus anaknya sendiri yang ngomong. Waktu disampaikan ke anak yang diduga pelaku, malah marah dan ngeluarin kata-kata kasar,” kenangnya.
Keluhan itu sempat dianggap angin lalu, hingga seminggu sebelum kejadian, korban mulai tampak murung dan menutup diri.
“Kami baru sadar setelah nemu surat wasiat di atas kasur. Dari situ kami yakin ada tekanan. Tapi biarlah pihak berwajib yang buktikan,” ucapnya.
Pihak keluarga langsung melapor ke Unit PPA Polres Sukabumi. Laporan diterima, dan polisi kini tengah mendalami berbagai bukti, termasuk ponsel korban yang berisi percakapan pribadi dan curahan hati sebelum tragedi terjadi.
Di tengah duka, keluarga korban sepakat menolak segala bentuk mediasi.
“Kalau sekarang damai, besok-besok bisa ada korban lagi. Kami minta keadilan ditegakkan,” tegas Topick.
Korban dikenal sebagai anak yang rajin dan berprestasi. Ia rutin mengaji, salat tanpa disuruh, dan selalu masuk peringkat dua besar di sekolahnya.
“Bukan kami mau membagus-baguskan, tapi itu faktanya. Dia anak baik,” tutur Topick dengan mata berkaca-kaca.
Meski belum ada bukti kuat terkait kekerasan fisik, keluarga meyakini tekanan psikis menjadi penyebab utama.
“Yang jelas, secara psikis dia terganggu. Pernah bilang pengen pindah sekolah,” imbuhnya.
Kini, keluarga berharap penyelidikan berjalan transparan dan pihak sekolah turut bekerja sama.
“Kalau ini terbukti, tolong sekolah jangan mempersulit proses hukum. Siapa pun yang coba membackup pelaku, minggir dulu. Ini soal keadilan dan masa depan anak-anak lain,” ujarnya menutup percakapan. (*)
The post Ketika Keluarga Korban Bullying di Cikembar Tuntut Keadilan first appeared on Inilah Sukabumi.



















