INILAHSUKABUMI.COM – Setiap pagi, Asep Purnawan, atau yang lebih dikenal dengan nama Kang Awank, memulai harinya dengan satu tujuan sederhana; memastikan tidak ada keluarga miskin yang merasa berjalan sendirian. Sejak 1 Januari 2018, ia mengabdi sebagai Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, menapaki lorong-lorong kampung, membawa lebih banyak harapan daripada dokumen.
Di rumah-rumah sederhana, kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) ini duduk di tikar lusuh, menunggu air teh disuguhkan, lalu mendengar cerita tentang ibu hamil yang cemas akan biaya persalinan, anak yang hampir putus sekolah, atau orang tua yang takut kehilangan bantuan. Baginya, pendampingan bukan sekadar mengurus data, tetapi tentang hadir, mendengar, dan menguatkan.
“Esensi PKH itu bukan soal uang, melainkan keluarga itu bangkit. Bangkit dari kemiskinan, bangkit dari ketergatungan,” kata Awank kepada inilahsukabumi.com, di sela-sela kegiatannya.
Di balik senyum yang ia bawa ke rumah-rumah warga, tersimpan banyak lelah. Pemuda berpeci hitam ini kerap menghadapi amarah saat bantuan terlambat, kebingungan ketika data berubah, dan kekecewaan warga saat bantuan harus dihentikan karena mereka dianggap sudah mampu. Ia sering menjadi tempat pelampiasan, meski bukan ia yang membuat kebijakan.
“Pernah ada ibu yang menangis di depan saya karena takut anaknya tak bisa sekolah lagi. Saat itu saya hanya bisa duduk, mendengar, dan meyakinkan bahwa hidup tidak berhenti di satu bantuan,” akunya.
Ada hari-hari ketika hujan mengguyur sepanjang jalan kampung, sementara ia harus tetap melangkah dari rumah ke rumah. Ada pula momen ketika ia pulang dengan perasaan kosong karena tak semua masalah bisa diselesaikan hari itu. Tetapi ada juga kebahagiaan yang tak bisa ditukar apa pun, saat seorang ibu menunjukkan usaha kecilnya yang mulai jalan, atau ketika anak KPM datang dengan seragam sekolah baru sambil tersenyum bangga.
“Saya paling terharu ketika keluarga berani graduasi keluar dari PKH dengan kesadaran sendiri. Itu artinya mereka siap berdiri,” imbuhnya.
Baca Juga: Ketua Kelompok PKH Cibadak Didorong Jadi Agen Perubahan di Tingkat Desa
Ia mendampingi keluarga mengelola bantuan usaha dari Kementerian Sosial, mengajari mereka menghitung untung rugi, memupuk percaya diri, dan pelan-pelan menata masa depan. Baginya, bantuan hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir.
Namun, pengabdian itu tidak selalu mendapat tepuk tangan. Kadang ia pulang membawa capek yang tak terlihat, hanya ditemani doa-doa lirih masyarakat yang ia dampingi. Doa-doa itulah yang ia sebut sebagai ‘upah paling jujur’ dalam pekerjaannya.
“Pendamping sosial itu kerja dunia, tapi nilainya akhirat,” ujarnya. Ia sering mengingatkan warga, “Bantuan hanya sementara, berdaya selamanya.”
Lebih dari delapan tahun berjalan di Kampung Pojok Indah, Kelurahan Cibadak, Kang Awank terus memilih peran yang sama, menjadi jembatan antara negara dan rakyat, antara keterbatasan dan harapan. Dalam setiap langkah kecilnya, ia memilih menjadi tangan yang mengangkat, bukan sekadar tangan yang memberi.
Di balik data dan laporan, di situlah kisah sesungguhnya tentang suka duka seorang pendamping PKH ditulis. Di ruang sempit, di mata yang berkaca, dan di senyum kecil yang perlahan tumbuh memilih satu peran mulia.
“Saya terus mengingatkan, menjadi tangan di atas yang mengangkat atau memberi itu lebih baik, daripada tangan di bawah yang terus meminta atau menerima,“ pungkasnya. (*)
Redaktur: Rendi Rustandi
The post Kisah Pendamping PKH Asal Cibadak Sukabumi, Jadi Tempat Curhat hingga Sasaran Emosi KPM first appeared on Inilah Sukabumi.



















