Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Sukabumi

One Way Sukabumi-Bogor, Efektif Urai Macet atau Sekadar Pindahkan Kemacetan?

×

One Way Sukabumi-Bogor, Efektif Urai Macet atau Sekadar Pindahkan Kemacetan?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ONE WAY: Petugas kepolisian mengatur arus lalu lintas saat penerapan sistem one way di jalur Sukabumi–Bogor pada malam hari guna mengurai kepadatan kendaraan. Sumber Foto: Net/Istimewa

INILAHSUKABUMI.COM – Penerapan skema satu arah atau one way di jalur nasional Sukabumi–Bogor, khususnya di kawasan Parungkuda hingga Cibadak, kembali menjadi sorotan publik. Meski diklaim efektif mengurai kemacetan saat lonjakan kendaraan, kebijakan ini dinilai masih menyisakan persoalan baru, mulai dari antrean panjang di titik penutupan hingga minimnya informasi kepada pengguna jalan.

Example 300x600

Berdasarkan penelusuran inilahsukabumi.com, skema one way diberlakukan secara rutin oleh tim gabungan Satlantas Polres Sukabumi dan Dinas Perhubungan, terutama pada musim liburan panjang dan akhir pekan. Terbaru, rekayasa lalu lintas ini diterapkan pada Sabtu (17/1/2026) di ruas Simpang Ratu Cibadak hingga Pintu Tol Parungkuda (Bocimi).

Melalui akun resmi media sosial, Satlantas Polres Sukabumi mengumumkan pemberlakuan one way selama satu jam, mulai pukul 16.30 WIB hingga 17.30 WIB. Kebijakan tersebut diambil menyusul lonjakan volume kendaraan saat long weekend Isra Miraj 2026 yang menyebabkan kepadatan parah di jalur Sukabumi Utara.

Namun, hasil pantauan di lapangan menunjukkan, kemacetan tidak sepenuhnya terurai. Di sejumlah titik penutupan arus, kendaraan justru mengular hingga beberapa kilometer, terutama dari arah yang ditahan sementara. Kondisi ini memicu keluhan pengguna jalan yang merasa tidak mendapatkan informasi cukup awal mengenai perubahan arus lalu lintas.

Kasat Lantas Polres Sukabumi, AKP Arif Saepul Haris, mengakui bahwa skema one way bersifat situasional dan sangat bergantung pada dinamika volume kendaraan. Menurutnya, rekayasa lalu lintas dapat diterapkan lebih dari satu kali dalam sehari jika lonjakan arus masih terjadi.

“Durasi pemberlakuan one way bersifat fleksibel. Jika antrean kendaraan dari arah timur atau Kota Sukabumi menuju Bogor atau sebaliknya sudah terkuras, rekayasa akan dihentikan. Namun jika lonjakan masih terjadi, durasinya bisa diperpanjang,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah pengendara yang diwawancarai inilahsukabumi.com menilai penerapan one way belum sepenuhnya dibarengi manajemen lalu lintas yang komprehensif. Minimnya papan informasi digital, kurangnya petunjuk jalur alternatif, hingga keterlambatan pembaruan di media sosial menjadi sorotan utama.

“Kalau sudah dekat titik penutupan baru dikasih tahu, kami terjebak macet. Harusnya ada informasi lebih awal supaya bisa pilih rute lain,” ujar Rudi (42), pengemudi asal Bogor yang terjebak antrean di kawasan Parungkuda.

Data Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi mencatat, volume kendaraan di jalur nasional Sukabumi–Bogor meningkat hingga 40 persen saat libur panjang. Lonjakan ini dipicu tingginya mobilitas wisatawan menuju kawasan pantai selatan Sukabumi serta arus balik menuju Jabodetabek.

Dalam konteks tersebut, sistem one way memang menjadi pilihan cepat untuk mengurai kemacetan. Berdasarkan keterangan Direktorat Lalu Lintas Polri, one way adalah pengaturan lalu lintas dengan penggunaan seluruh lajur jalan untuk satu arah penuh, sehingga kendaraan dari arah berlawanan tidak diizinkan melintas sama sekali.

Skema ini terbukti mampu mempercepat arus kendaraan pada satu arah tertentu, terutama saat puncak arus mudik atau arus balik. Namun, dampaknya adalah penumpukan kendaraan di arah sebaliknya yang harus dialihkan ke jalur alternatif, yang sering kali memiliki kapasitas terbatas.

Dalam praktiknya, aparat kepolisian di Sukabumi juga menerapkan skema contraflow sebagai alternatif. Berbeda dengan one way, sistem contraflow hanya menggunakan sebagian lajur dari arah berlawanan untuk memperbesar kapasitas arus utama, sementara kendaraan dari arah lain masih tetap bisa melintas.

Secara keselamatan, one way dinilai lebih aman karena tidak ada pertemuan arus kendaraan dari arah berlawanan. Namun, sistem ini membutuhkan perencanaan rute alternatif yang matang dan komunikasi publik yang intensif agar tidak menimbulkan kemacetan baru di titik-titik penutupan.

Pengamat transportasi wilayah selatan Jawa Barat, Dedi Firmansyah, menilai penerapan one way di Sukabumi perlu disertai evaluasi berbasis data lalu lintas real-time. “Tanpa sistem informasi yang terintegrasi dan peringatan dini kepada pengguna jalan, kebijakan ini hanya memindahkan titik macet, bukan menguranginya,” ujarnya.

Dedi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi seperti traffic counting system, papan informasi digital, dan integrasi aplikasi navigasi untuk memberikan peringatan lebih awal kepada masyarakat. Menurutnya, langkah ini dapat meningkatkan efektivitas rekayasa lalu lintas sekaligus meminimalkan keluhan publik.

Hingga saat ini, Satlantas Polres Sukabumi menyatakan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan one way, termasuk menambah personel di jalur utara dan meningkatkan koordinasi lintas sektor. Aparat juga mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi resmi sebelum melakukan perjalanan.

Dengan meningkatnya mobilitas wisatawan dan pengguna jalan di jalur Sukabumi–Bogor, efektivitas sistem one way menjadi krusial dalam menjaga kelancaran arus lalu lintas. Namun tanpa perbaikan pada aspek komunikasi publik, perencanaan rute alternatif, dan pemanfaatan teknologi, kebijakan ini berpotensi terus menuai kritik di tengah masyarakat. (*)

Reporter: Idam

Redaktur: Rendi Rustandi

The post One Way Sukabumi-Bogor, Efektif Urai Macet atau Sekadar Pindahkan Kemacetan? first appeared on Inilah Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *