INILAHSUKABUMI.COM – Pergerakan tanah di zona aktif Sesar Cimandiri kembali menimbulkan ancaman serius terhadap infrastruktur vital di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Kali ini, ruas Jalan Provinsi Sukabumi–Sagaranten dilaporkan ambles sepanjang 42 meter di KM 120–150, tepatnya di Kampung Buniayu, RT 02 dan RT 03/RW 06, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung.
Insiden amblesnya badan jalan tersebut terjadi di tengah cuaca ekstrem yang melanda Sukabumi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena bertepatan dengan meningkatnya mobilitas kendaraan menjelang dan setelah libur panjang Natal dan Tahun Baru 2025.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, amblesan jalan ini tergolong titik baru yang sebelumnya belum pernah masuk dalam daftar penanganan rutin pemerintah provinsi. Kepala Satuan Pelayanan Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Kabupaten Sukabumi 3, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat, Wisnu Sunjaya, membenarkan hal tersebut.
“Panjang jalan yang ambles mencapai sekitar 42 meter dengan lebar kurang lebih 3 meter. Kedalamannya bervariasi, mulai dari 0,5 meter hingga mencapai 3 meter di beberapa bagian,” ungkap Wisnu dikutip dari radarsukabumi.com, Senin (5/1/2026).
Hasil kajian awal DBMPR Jabar menunjukkan bahwa kerusakan ini bukan semata akibat curah hujan tinggi, melainkan dipicu oleh faktor geologis yang bersifat laten. Ruas jalan tersebut diketahui berada tepat di atas jalur aktif Sesar Cimandiri yang mengalami pergerakan tanah secara periodik setiap tahun.
“Ini bukan longsor biasa. Yang terjadi adalah pergerakan tanah akibat aktivitas sesar aktif. Fenomena seperti ini memang berulang di wilayah tersebut,” tegas Wisnu.
Selain di KM 120–150, tim DBMPR Jabar juga mencatat sedikitnya tiga titik lain yang terdampak di sepanjang ruas Sukabumi–Baros–Sagaranten. Salah satu titik berada di KM 117.600, dekat Kantor Desa setempat, yang sempat tertutup material lumpur kiriman dari area perkebunan di sekitar jalan.
“Untuk titik di KM 117.600, material lumpur sudah kami bersihkan. Saat ini jalur tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat, meski tetap perlu kewaspadaan,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi cepat, DBMPR Jabar telah memberlakukan sistem buka-tutup lalu lintas di lokasi amblesan. Pengurugan darurat juga dilakukan untuk menjaga aksesibilitas warga serta mencegah kerusakan yang lebih luas.
“Kami juga memasang bronjong untuk memperkuat struktur tanah di sekitar titik ambles. Ini bersifat sementara sambil menunggu kajian teknis lanjutan,” kata Wisnu.
DBMPR Jabar menargetkan penanganan darurat rampung sebelum puncak arus libur Natal dan Tahun Baru. Langkah ini dinilai krusial mengingat ruas Sukabumi–Sagaranten kerap digunakan sebagai jalur alternatif menuju kawasan pesisir selatan, termasuk Sagaranten dan Tegalbuleud.
“Walaupun bukan jalur utama wisata seperti Pelabuhanratu, ruas ini memiliki peran strategis sebagai jalur penghubung wilayah selatan. Karena itu, keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas kami,” ujarnya.
Hingga saat ini, pemerintah memastikan belum ada laporan kerusakan permukiman warga akibat pergerakan tanah tersebut. Namun, potensi risiko tetap terbuka, terutama jika curah hujan tinggi kembali terjadi di kawasan rawan Sesar Cimandiri.
“Kami mengimbau seluruh pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan turun. Jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah, segera laporkan kepada petugas,” pungkas Wisnu. (*)
The post Sesar Cimandiri Aktif, Diduga Pemicu Jalan Sukabumi-Sagaranten Ambles first appeared on Inilah Sukabumi.



















