Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita Utama

Tanpa Ruang Terbuka Hijau, Apakah Kota Masih Layak Dihuni?

×

Tanpa Ruang Terbuka Hijau, Apakah Kota Masih Layak Dihuni?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kota Tanpa Ruang Terbuka Hijau, Seberapa Besar Dampaknya?

JAKARTA – Kota tanpa ruang terbuka hijau (RTH) menghadapi tekanan besar, mulai dari suhu yang semakin panas, polusi udara yang meningkat, hingga risiko banjir yang lebih tinggi. Warga juga merasakan dampaknya melalui kesehatan fisik dan mental yang menurun.

Example 300x600

Di tengah laju pembangunan kota yang pesat, keberadaan ruang terbuka ini memang sering terabaikan, padahal perannya sangat penting bagi kualitas hidup masyarakat perkotaan. Lantas, apa itu RTH dan apa dampaknya bagi kota? Simak artikel ini!

Apa Itu Ruang Terbuka Hijau (RTH)?

Ruang terbuka hijau adalah bagian kota yang diisi vegetasi, mulai dari taman, hutan kota, hingga jalur hijau, yang berperan langsung menjaga kualitas lingkungan dan kehidupan warganya. Kehadirannya membantu menyerap polusi udara, menurunkan suhu, meredam risiko banjir, sekaligus menyediakan ruang berkumpul bagi masyarakat.

Tanpa RTH, kota kehilangan “paru-paru” yang membuatnya tetap layak dihuni. Di Indonesia, aturan sebenarnya sudah jelas. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 menetapkan minimal 30% wilayah kota harus berupa RTH, dengan pembagian 20% publik dan 10% privat. Namun, realitas di lapangan masih jauh dari target tersebut.

Jakarta bisa menjadi gambaran nyata. Hingga awal 2026, luas RTH di ibu kota berada di kisaran 5,31% hingga 9,98%. Padahal, jumlah taman sudah mencapai lebih dari 1.300 dan terdapat lebih dari 100 hutan kota. Sayangnya, luas totalnya belum sebanding dengan kepadatan wilayah. Berikut beberapa kendala yang terlihat.

  • Banyak taman didominasi beton, sehingga fungsi ekologisnya belum maksimal.
  • Harga lahan yang tinggi membuat penambahan area hijau sulit dilakukan.
  • Alih fungsi lahan ke sektor komersial terus berjalan.

Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas udara, suhu kota, hingga meningkatnya potensi banjir. Ketika porsi RTH tidak terpenuhi, kota perlahan kehilangan keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.

5 Dampak Kota Tanpa Ruang Terbuka Hijau

Kota yang minim area hijau tidak hanya terasa panas dan padat. Dampaknya menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan hingga ekonomi. Berikut penjabarannya.

1. Kualitas Udara Menurun

Tanaman berperan sebagai penyaring alami polutan. Tanpa cukup vegetasi, udara kota akan dipenuhi oleh partikel berbahaya. Akibatnya, risiko gangguan pernapasan meningkat dan kualitas hidup menurun.

2. Suhu Kota Semakin Panas

Permukaan beton dan aspal menyerap panas dan menyimpannya lebih lama. Fenomena ini terkenal sebagai urban heat island. Tanpa ruang terbuka hijau, kota terasa jauh lebih panas, terutama di siang hari.

3. Risiko Banjir Lebih Tinggi

Permukaan keras seperti jalan dan bangunan menghambat penyerapan air hujan. Air akhirnya mengalir cepat ke saluran drainase yang sering kali tidak mampu menampungnya. Padahal, di kota besar Indonesia, keberadaan area hijau mampu menurunkan peluang banjir secara signifikan.

4. Kesehatan Fisik dan Mental Menurun

Minimnya ruang untuk bergerak membuat masyarakat cenderung pasif. Aktivitas seperti berjalan, berlari, atau berolahraga jadi terbatas. Dampaknya, risiko obesitas dan penyakit jantung meningkat.

Selain itu, stres, kecemasan, hingga depresi lebih sering muncul. Lingkungan hijau memberi efek menenangkan. Tanpanya, warga mudah merasa tertekan dengan kondisi kota yang padat.

5. Kesenjangan Sosial dan Ekonomi

Akses terhadap taman sering kali tidak merata. Kawasan tertentu memiliki fasilitas hijau yang baik, sementara wilayah lain hampir tidak memilikinya. Kondisi ini memperlebar kesenjangan kualitas hidup.

Dari sisi ekonomi, nilai properti di area tanpa taman cenderung lebih rendah. Kemudian, biaya kesehatan meningkat. Bahkan, pengeluaran energi akan naik karena kebutuhan pendingin ruangan.

Tren Baru: Ruang Terbuka Hijau + Area Olahraga

Perkembangan kota mulai mengarah pada pola yang lebih seimbang, salah satunya melalui penggabungan RTH dengan area olahraga.

1. Konsep Multifungsi yang Semakin Diminati

Di berbagai kota besar, termasuk Jakarta dan kawasan IKN, pendekatan ini mulai terlihat melalui pembangunan taman tematik yang dilengkapi fasilitas fisik seperti jogging track, lapangan multifungsi, hingga area sosial terbuka. Perubahan ini terjadi karena kebutuhan warga kota ikut berubah.

Banyak orang mencari tempat yang bisa digunakan untuk berolahraga sekaligus melepas penat tanpa harus keluar jauh dari lingkungan tempat tinggal. Kehadiran RTH yang terintegrasi dengan aktivitas fisik menjawab kebutuhan tersebut. 

Warga bisa berlari, bermain, atau sekadar duduk santai di area yang sama, sehingga fungsi ruang menjadi lebih hidup.

2. Dampak Positif bagi Warga

Lanskap tidak lagi dibuat sekadar hijau, tetapi nyaman digunakan dalam berbagai aktivitas. Rumput sintetis, jalur lari yang rapi, serta ruang interaksi sosial menjadi bagian dari satu kesatuan.

Bahkan, tren olahraga luar ruang seperti foot golf mulai diprediksi berkembang karena desain taman yang semakin adaptif. Hal tersebut menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau kini berkembang menjadi ruang publik yang dinamis.

3. Arah Pengembangan Kota ke Depan

Dari sisi perencanaan, arah pembangunan mulai bergeser. Pemerintah dan pengembang tidak lagi berfokus pada bangunan dan jalan saja, tetapi mulai mempertimbangkan keseimbangan antara lingkungan dan kebutuhan manusia.

Pemanfaatan lahan kosong, pengembangan taman kecil di area padat, hingga integrasi jalur hijau menjadi bagian dari strategi kota modern. Semua ini memperkuat peran RTH sebagai elemen penting dalam kehidupan urban.

Demi mewujudkan kawasan seperti ini, peran tenaga profesional pun menjadi krusial. Anda sendiri dapat bekerja sama dengan kontraktor olahraga yang berpengalaman dalam menghadirkan fasilitas publik berkualitas.

Penataan area hijau dapat dilakukan melalui layanan konstruksi landscape ruang terbuka hijau. Sementara pembangunan fasilitas fisik seperti lapangan dapat dikerjakan oleh penyedia konstruksi lapangan olahraga.

Bangun Ruang Terbuka Hijau untuk Masa Depan!

Kesimpulannya, kekurangan ruang terbuka hijau bukan sekadar isu estetika, tetapi persoalan serius yang memengaruhi kehidupan kota secara menyeluruh. Keterbatasan RTH di kawasan perkotaan pun menjadi tantangan serius yang berdampak pada lingkungan, kesehatan, hingga hubungan sosial-masyarakat.

Kota yang minim pepohonan dan taman cenderung mengalami peningkatan suhu, polusi, serta penurunan kualitas hidup warganya. Kondisi ini mendorong pentingnya perubahan arah pembangunan yang lebih memperhatikan keseimbangan antara infrastruktur dan alam.

Dengan menghadirkan lebih banyak taman, menanam pohon, serta mengembangkan infrastruktur hijau, kota dapat menjadi tempat yang lebih nyaman dan sehat. Langkah ini tidak hanya memberi manfaat jangka pendek, tetapi juga punya dampak jangka panjang bagi generasi mendatang agar dapat menikmati lingkungan yang layak.

The post Tanpa Ruang Terbuka Hijau, Apakah Kota Masih Layak Dihuni? first appeared on Sukabumi Ku.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *