Sumber: Radar Sukabumi
TASIKMALAYA — Dari sebuah rumah sederhana bercat putih yang mulai kusam, berlantai tikar, dan sesekali dipenuhi aroma bubur ayam dari dapur kecil, tumbuh sebuah mimpi besar yang akhirnya berangkat menuju Tanah Suci.
Karim (55) dan istrinya, Edoh (52), warga Kampung Cimerak, Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, resmi menunaikan ibadah haji tahun 2026. Mereka tergabung dalam Kloter 04 KJT dan diberangkatkan pada Kamis (23/4/2026).
Perjalanan menuju Baitullah bagi pasangan ini bukanlah kisah instan. Selama 24 tahun, mereka merawat mimpi itu dengan cara sederhana namun konsisten: menyisihkan Rp50 ribu hingga Rp150 ribu setiap hari dari hasil berjualan cilok dan bubur ayam keliling.
“Alhamdulillah, cita-cita ti kapungkur hayang naek haji, ayeuna kacumponan,” kata Edoh penuh haru.
Perjalanan Panjang
- 2002–2012: Tinggal di kontrakan bilik dengan biaya sewa Rp30 ribu–Rp60 ribu per bulan. Karim menjajakan cilok dari gang ke gang, sementara Edoh bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
- 2013: Titik balik. Karim beralih berjualan bubur ayam dengan gerobak sederhana. Usaha “Bubur Ayam Spesial Pak Karim” tumbuh berkat cita rasa jujur dan harga terjangkau Rp7 ribu–Rp10 ribu per porsi.
- Setiap hari, Karim berjalan kaki sejauh 3–5 km, berjualan dua kali: pagi–siang dan sore–malam. Gerobak yang ia dorong bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan kendaraan mimpi.
Sedikit demi sedikit, mereka menyisihkan hasil dagangan. Dari uang muka Rp50 juta, cicilan Rp15 juta, tambahan Rp10 juta pada 2018, hingga akhirnya total pelunasan Rp62 juta berhasil diselesaikan.
Tak ada jalan pintas, hanya kesabaran yang dirawat hari demi hari.
Bagi Edoh, perjalanan ini bukan sekadar soal angka, melainkan panggilan hati. Ia mengenang masa lalu penuh perjuangan, merantau, membesarkan anak, hingga akhirnya mimpi haji terwujud.
Kini, di usia senja, harapan mereka sederhana: diberi kesehatan selama ibadah, umur yang cukup untuk kembali ke tanah air, dan semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa mimpi tidak selalu membutuhkan percepatan, melainkan keteguhan. “Abdi hoyong kawas batur naik haji, ayeuna tos kakabul ku Gusti,” tutup Edoh.(*)
The post Tukang Bubur Naik Haji, Kisah Karim dan Edoh ke Tanah Suci appeared first on Radar Sukabumi.











