YOGYAKARTA – Perubahan tren konsumsi pangan global mulai mendorong transformasi di sektor peternakan Indonesia. Salah satunya ditandai dengan kolaborasi antara PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam mengembangkan model farm ayam petelur sistem umbaran atau cage-free.
Pengembangan model ini dilakukan di kawasan UGM Innovation and Agro-Technology Center, Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya menghadirkan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan sekaligus menjawab tuntutan pasar.
Sebagai bentuk dukungan awal, Japfa menyediakan 1.500 ayam dara siap bertelur serta pasokan pakan selama masa produksi. Model ini tidak hanya difungsikan sebagai unit produksi, tetapi juga menjadi sarana riset bagi akademisi dan pelaku industri.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro, menjelaskan bahwa sistem cage-free memberi ruang bagi ayam untuk bergerak lebih bebas dan menjalankan perilaku alaminya.
“Model cage-free memungkinkan ayam bergerak lebih bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya. Ketika kesejahteraan hewan terpenuhi, tingkat stres menurun dan berdampak positif terhadap produktivitas serta kualitas telur.,” ujar Budi dalam keterangan yang diterima sukabumiku.id, Selasa (12/05/2026).
Menurutnya, meski masih dalam skala terbatas, fasilitas ini dapat menjadi rujukan penting bagi pengembangan sistem serupa di Indonesia. “Model ini menjadi basis ilmiah untuk menyediakan data produksi langsung bagi peternak yang ingin mengembangkan sistem cage-free,” ujarnya.
Baca Juga: DPUTR Kota Sukabumi Optimalkan Penataan Lapdek Lewat Pengamanan Terpadu, Warga Kini Kian Nyaman
Sementara itu, COO Poultry Indonesia Japfa, Arif Widjaja, menilai keberadaan fasilitas tersebut memiliki peran strategis. “Fasilitas cage-free ini tidak hanya sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai platform riset untuk mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Arif.
Arif juga menambahkan bahwa langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik peternakan yang lebih bertanggung jawab di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap produk telur berkualitas.
Dukungan terhadap inisiatif ini juga disampaikan oleh Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto. Ia menilai kolaborasi antara dunia industri dan akademik menjadi fondasi penting dalam transformasi sektor perunggasan.
Baca Juga: Wakil Kepala BGN Temukan Dugaan Kelalaian Pengawasan SPPG di Sagaranten
“Pengembangan model farm cage-free di lingkungan akademik seperti UGM memberikan fondasi penting untuk menghasilkan data ilmiah yang relevan dengan konteks Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hal tersebut penting untuk menjembatani kebutuhan industri, ekspektasi pasar global, serta peningkatan keamanan pangan dan kesejahteraan hewan.
Tren penggunaan telur cage-free sendiri terus menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan survei GMO Research pada Juli 2025, sebanyak 72 persen konsumen percaya perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur cage-free dalam rantai pasoknya. Bahkan, 55 persen konsumen menyatakan lebih memilih produk dari merek yang telah menerapkan 100 persen telur cage-free.
Di tingkat global, lebih dari 2.000 perusahaan telah berkomitmen untuk beralih sepenuhnya ke telur cage-free dalam beberapa tahun ke depan. Di Indonesia, sejumlah pelaku usaha ritel dan kuliner juga mulai mengikuti tren tersebut sebagai bagian dari penyesuaian terhadap permintaan pasar.
Baca Juga: Rumah Tiga Lantai Ambruk di Cisaat, Akses Warga Tertutup dan 2 KK Mengungsi
Kolaborasi antara Japfa dan UGM ini diharapkan dapat mempercepat adopsi sistem peternakan modern di Indonesia, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk telur yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
The post Model Farm Cage-Free di Industri Ayam Petelur Mulai Dikembangkan di Indonesia first appeared on Sukabumi Ku.



















