Harga Minyak Dunia Naik, IATMI: Hanya Efek Sementara

JAKARTA– Lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan hanya bersifat sementara. Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia (IATMI) menilai kenaikan harga tersebut tidak akan menjadi tren jangka panjang hingga akhir 2026.

Di kutip dari kontan.co.id Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 7 persen menjadi US$75,6 per barel pada Rabu (8/7/2026). Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo, mengatakan lonjakan harga minyak saat ini lebih merupakan respons pasar terhadap sejumlah peristiwa global yang terjadi secara bersamaan, bukan karena perubahan fundamental yang akan berlangsung lama.

Baca Juga : Resep Bandros Keju, Kreasi Kue Tradisional Sunda dengan Sentuhan Modern

“Menurut saya ini tren sementara. Secara umum sudah pada posisi menuju harga normal sebelum perang. Ini hanyalah dinamika di mana beberapa accident saling terjadi, namun bukan skala penuh,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Hadi memperkirakan kondisi geopolitik di Timur Tengah tidak akan terus memanas sehingga harga minyak berpotensi kembali ke level keseimbangan dalam waktu dekat.

“Menurut saya, keadaan tidak berlanjut. Bulan Juni rata-rata ICP sekitar US$88 per barel, dan bulan Juli walau ada riak-riak kenaikan di pasar spot, sifatnya sementara dan menuju angka keseimbangan sebelum perang,” katanya.

Baca Juga : Resep Jamu Penambah Nafsu Makan, Minuman Herbal yang Mudah Dibuat di Rumah

Meski demikian, Hadi mengingatkan bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap perlu diwaspadai. Menurutnya, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah cukup berat akibat tingginya belanja subsidi dan kompensasi energi.

“Tanpa ada kenaikan harga pun APBN sudah defisit, subsidi energi juga membengkak. Sehingga pemerintah harus mulai serius meninjau kembali APBN untuk menghapus program-program yang bukan prioritas,” tegasnya.

Untuk mengurangi tekanan terhadap anggaran negara, IATMI mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).

Hadi menyarankan agar pemerintah kembali menggalakkan program konversi energi, mulai dari penggunaan BBM ke gas, LPG ke gas, hingga pemanfaatan listrik sebagai sumber energi alternatif.

Selain itu, momentum kenaikan harga minyak dinilai dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembangunan infrastruktur gas, peningkatan cadangan energi, serta pengamanan pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG.

IATMI menilai fluktuasi harga minyak dunia saat ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat reformasi sektor energi. Selain menjaga ketahanan pasokan jangka pendek, langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan. (SE)

The post Harga Minyak Dunia Naik, IATMI: Hanya Efek Sementara first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *