
JAKARTA – Fenomena El Nino berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi di Indonesia, terutama melalui gangguan pasokan pangan. Risiko tersebut menjadi perhatian di tengah inflasi tahunan Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,88 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juli 2026 terjadi deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan. Dengan demikian, tingkat inflasi secara year to date (y-to-d) hingga Juli 2026 berada di level 1,65 persen.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai perlambatan inflasi pada Juli terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pangan dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Baca Juga : Ide Jualan Kekinian: Resep Corndog Cheetos Isi Mozarella, Gurih dan Lumer
Namun, kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan hilangnya tekanan inflasi secara berkelanjutan.
“Ke depan, tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat akibat risiko gangguan pasokan pangan dari fenomena El Niño serta kenaikan permintaan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Liza dalam risetnya, Selasa (4/8/2026).
Menurut Liza, kondisi tersebut berpotensi membuat Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
Risiko Inflasi Masih Mengarah ke Atas
Senada, Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi memperkirakan inflasi masih berada dalam kisaran sasaran BI. Meski demikian, risiko inflasi dinilai masih cenderung mengarah ke atas.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlangsung.
Prasetya menilai penurunan harga sejumlah komoditas pangan yang bersifat volatil berpotensi berbalik. Di sisi lain, kenaikan harga energi global, depresiasi rupiah, serta kemungkinan penyesuaian harga yang diatur pemerintah dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.
“Dengan demikian, inflasi yang lebih rendah pada bulan Juli memberikan sedikit keringanan kebijakan tetapi kemungkinan tidak cukup untuk membenarkan sikap moneter yang jauh lebih akomodatif, terutama selama risiko eksternal dan nilai tukar tetap tinggi,” jelas Prasetya.
El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027
Risiko inflasi akibat gangguan pasokan pangan juga perlu diperhatikan seiring dengan prediksi kondisi El Nino.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino dapat bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027. Intensitasnya bahkan berpotensi mencapai kategori kuat.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan yang berpengaruh terhadap produksi sejumlah komoditas pangan.
Risiko tersebut berpotensi semakin besar apabila Indian Ocean Dipole (IOD) Positif kembali aktif pada periode September hingga Desember 2026.
Kombinasi El Nino dan potensi IOD Positif dapat menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan.
Sementara itu, Bank Indonesia masih mempertahankan sasaran inflasi sebesar 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen. Dengan mempertimbangkan risiko pangan, nilai tukar, dan faktor eksternal, arah kebijakan moneter ke depan diperkirakan tetap akan mempertimbangkan keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.(SE)
The post El Nino Berpotensi Kerek Inflasi, Harga Pangan Jadi Sorotan first appeared on Sukabumi Ku.




