SUKABUMIKU – Makanan tradisional yang dikukus, seperti ubi, singkong, dan aneka umbi-umbian, mulai mendapat tempat di tengah kebiasaan sarapan anak muda. Selain harganya relatif terjangkau, makanan ini dinilai praktis dan bisa menjadi alternatif menu sarapan di tengah aktivitas yang padat.
Jika dahulu makanan kukusan identik dengan jajanan tradisional atau makanan rumahan, kini keberadaannya berpotensi menjadi pilihan kuliner yang diminati berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan pekerja muda.
Salah satu daya tariknya adalah harga yang ramah di kantong. Dengan kisaran Rp5.000 hingga Rp15.000, konsumen dapat menikmati menu sarapan sederhana tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Bagi mahasiswa maupun pekerja yang ingin menghemat pengeluaran harian, makanan kukusan bisa menjadi alternatif untuk mengisi perut sebelum memulai aktivitas.
Dianggap Lebih Sehat dan Sederhana
Proses pengukusan menjadi salah satu alasan makanan ini kembali dilirik. Dibandingkan sejumlah metode pengolahan yang menggunakan banyak minyak, mengukus tidak memerlukan tambahan minyak dalam proses memasaknya.
Ubi dan singkong juga mengandung karbohidrat yang dapat menjadi sumber energi. Namun, nilai gizinya tetap bergantung pada jenis bahan, porsi, serta makanan pendamping yang dikonsumsi.
Agar sarapan lebih seimbang, makanan kukusan dapat dipadukan dengan sumber protein, seperti telur, tahu, atau tempe, serta makanan lain sesuai kebutuhan tubuh.
Cita Rasa Tradisional, Peluang Usaha Menjanjikan
Selain menawarkan kesederhanaan, makanan kukusan juga memiliki daya tarik dari sisi rasa dan nostalgia. Menu yang akrab sejak kecil ini dapat dikemas dengan tampilan lebih menarik tanpa meninggalkan karakter tradisionalnya.
Pelaku usaha kuliner pun berpeluang mengembangkan variasi penyajian, mulai dari paket sarapan praktis hingga kombinasi aneka kukusan dalam satu kemasan.
Dengan modal yang relatif fleksibel dan bahan baku yang mudah dijumpai di sejumlah daerah, usaha makanan kukusan dapat menjadi pilihan bagi pelaku UMKM. Meski demikian, keberhasilan usaha tetap ditentukan oleh kualitas produk, kebersihan, lokasi penjualan, harga, dan kemampuan menjangkau konsumen.
Kembalinya minat terhadap makanan kukusan menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu identik dengan sesuatu yang ketinggalan zaman. Dengan penyajian yang tepat dan menyesuaikan kebutuhan konsumen, makanan sederhana ini tetap berpeluang menjadi bagian dari gaya hidup masa kini.
The post Bukan Lagi Makanan Jadul, Kukusan Jadi Pilihan Sarapan Anak Muda first appeared on Sukabumi Ku.
