Sumber: Radar Sukabumi
DENDAM itu seperti api kecil di tungku. Kalau dibiarkan, ia bisa padam. Tapi kalau diberi kayu, ia bisa membakar rumah. Kita sering lupa, dendam bukan hanya soal perasaan. Lebih dari itu ia bisa jadi sistem. Ia bisa jadi budaya.
Di Maluku, dendam bisa diwariskan. Nama Kei sudah lama jadi simbol konflik. Nus Kei, John Kei, dan jaringan mereka bukan sekadar orang. Mereka adalah bab dalam sejarah panjang kekerasan di negeri ini. Ketika satu bab belum ditutup, bab lain bisa muncul kapan saja.
Di Jakarta, dendam bisa muncul dari hal kecil. Empat prajurit TNI merasa sakit hati. Mereka rapat. Mereka merencanakan. Mereka eksekusi. Air keras jadi senjata. Ini bukan sekadar kriminal. Ini pelajaran pahit: disiplin militer tidak menjamin hilangnya dendam pribadi.
Kita sering bicara soal reformasi hukum, soal demokrasi, soal transparansi. Tapi jarang bicara soal dendam. Padahal dendam adalah benih konflik yang paling murah, paling gampang tumbuh, dan paling sulit diberantas.
Kalau dendam terus dipelihara, ia bisa mengalahkan hukum. Ia bisa mengalahkan logika. Ia bisa mengalahkan rasa kemanusiaan.
Negeri ini butuh lebih dari sekadar penegakan hukum. Negeri ini butuh budaya memaafkan. Bukan memaafkan untuk melupakan, tapi memaafkan untuk menghentikan rantai balas dendam.
Kalau tidak, kita akan terus hidup dalam lingkaran dendam. Hari ini air keras. Besok pisau. Lusa mungkin senjata api. Dan seterusnya.
Dendam tidak pernah pensiun. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali bekerja. Kalau bangsa ini tidak belajar memutus rantai dendam, kita akan terus jadi penonton tragedi yang sama, dengan aktor yang berganti-ganti.
Kita sering terlalu suka berpikir rumit. Sedikit-sedikit bicara strategi besar, kepentingan politik, permainan kekuasaan. Padahal kadang jawabannya sederhana: “dia tersinggung.”
Dua kasus ini seperti dua cermin. Yang satu memperlihatkan bagaimana dendam pribadi bisa menyeret oknum TNI ke tindakan brutal. Yang satu lagi menunjukkan bagaimana dendam lama di tanah konflik bisa muncul kapan saja.
Lucunya, kita sering merasa ini jauh dari hidup kita. Padahal bibitnya ada di mana-mana. Di obrolan, di ego, di rasa ingin menang sendiri. Bedanya cuma satu: ada yang memadamkan, ada yang memupuk. Tanya diri kita, apakah ada demdam apa hari ini. Nasib buruk, omongan teman.
Kalau dendam terus dijadikan bahan bakar, jangan heran kalau suatu hari nanti kita kehabisan manusia. Yang tersisa hanya cerita tentang siapa membalas siapa.
Percayalah, dalam perang dendam, tidak ada pemenang. Yang ada cuma korban yang bergantian. Kali ini Iran, Besok Kuba mungkin Lusa Indonesia. (*)
The post Dendam Tidak Pensiun appeared first on Radar Sukabumi.















