
Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Penanganan Tuberkulosis (TBC) di Kota Sukabumi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya capaian skrining hingga tingginya jumlah pasien yang berasal dari luar daerah.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi mencatat, hingga April 2026, jumlah warga yang menjalani skrining TBC baru mencapai 3.027 orang. Angka tersebut masih jauh dari target tahunan sebanyak 10.184 orang. Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, menegaskan perlunya peningkatan upaya penemuan kasus di lapangan. “Masih banyak yang harus dikejar. Kami terus mendorong agar skrining bisa menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Dari target skrining tersebut, diharapkan dapat ditemukan sekitar 2.096 kasus TBC sepanjang tahun. Namun, fenomena di lapangan menunjukkan sebagian besar pasien TBC yang menjalani pengobatan di Kota Sukabumi justru bukan warga setempat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengungkapkan dari total 866 pasien yang tengah menjalani terapi, lebih dari separuhnya merupakan pasien dari luar kota. “Sekitar 53 persen pasien berasal dari luar daerah, seperti Kabupaten Sukabumi, Cianjur, hingga Bogor. Mereka memilih berobat di fasilitas kesehatan di Kota Sukabumi,” jelasnya.
RSUD R Syamsudin SH menjadi rujukan utama dengan jumlah kasus cukup tinggi, disusul rumah sakit swasta dan puskesmas. Meski begitu, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Kota Sukabumi masih belum memenuhi target nasional. Saat ini, angka kesembuhan baru berada di kisaran 76 persen, sementara target nasional mencapai 90 persen.
Denna menilai, kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik pasien, khususnya mereka yang berasal dari luar daerah. “Pasien dari luar kota cenderung sulit dipantau kelanjutan pengobatannya. Banyak yang tidak menyelesaikan terapi hingga tuntas,” ungkapnya.
Padahal, pengobatan TBC harus dijalani secara rutin selama minimal enam bulan. Ketidakpatuhan dalam menjalani terapi dapat meningkatkan risiko penularan sekaligus memperparah kondisi pasien. “Sering kali pasien merasa sudah sembuh karena gejala mereda dalam beberapa minggu. Padahal, jika pengobatan dihentikan, justru berisiko kambuh dan menular kembali,” tegasnya.
Dinkes Kota Sukabumi pun terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar lebih memahami pentingnya deteksi dini dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan TBC hingga selesai.(ris/d)
The post Dinkes Sukabumi Fokus Edukasi dan Deteksi Dini TBC appeared first on Radar Sukabumi.



















