
Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan STIKes Sukabumi. Dua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kampus tersebut berhasil lolos pendanaan nasional PKM 2026. Keberhasilan ini sekaligus mempertegas komitmen STIKes Sukabumi dalam mendorong budaya riset, inovasi, dan kreativitas mahasiswa di tingkat nasional.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIKes Sukabumi, Sri Janatri, mengaku bersyukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan kali ini menjadi pengalaman kedua bagi STIKes Sukabumi setelah sebelumnya pada tahun 2025 juga berhasil meloloskan tim PKM hingga tampil di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang digelar di Universitas Hasanuddin.
“Alhamdulillah, tentu saja kami menginginkan keberhasilan ini kembali. Ini merupakan pengalaman kedua kami. Tahun 2025 lalu, STIKes Sukabumi juga berhasil lolos pendanaan PKM bahkan sampai ke PIMNAS di Universitas Hasanuddin Makassar,” ujarnya.
Sri menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari keseriusan mahasiswa dalam menyusun proposal penelitian serta peran aktif dosen pendamping yang mendampingi sejak tahap awal hingga proses akhir.
“Kuncinya tentu keseriusan luar biasa dari mahasiswa yang tergabung dalam tim PKM dan juga keseriusan dosen pendamping yang kami tunjuk untuk mendampingi mereka dari awal sampai akhir,” katanya.
Menurutnya, dukungan kampus terhadap kegiatan PKM menjadi bagian dari tanggung jawab institusi dalam mendorong pengembangan minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa, termasuk dalam bidang ilmiah dan penelitian.
STIKes Sukabumi, lanjut Sri Janatri, juga memberikan dukungan finansial sesuai ketentuan yang berlaku agar mahasiswa lebih optimal dalam menjalankan program PKM. Selain itu, seluruh tim PKM mendapatkan pendampingan dosen sebagai bentuk dukungan nyata kampus terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa.
“Ini merupakan kewajiban kami untuk mendukung mahasiswa berkreativitas, termasuk dalam kegiatan ilmiah seperti PKM. Kami menunjuk dosen pendamping untuk seluruh tim agar mereka benar-benar mendapatkan arahan dan pendampingan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kemampuan penelitian menjadi hal penting bagi mahasiswa kesehatan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik pelayanan kesehatan saat ini harus berbasis Evidence-Based Practice (EBP).
“Mahasiswa kami adalah calon perawat dan bidan yang harus memiliki kemampuan penelitian. Dalam praktik asuhan keperawatan maupun kebidanan, semuanya harus berdasarkan evidence-based practice,” ungkapnya.
Kemampuan riset mahasiswa sendiri mulai dibangun sejak perkuliahan melalui mata kuliah metodologi penelitian dan literature review. Dari sana mahasiswa mulai terbiasa memahami fenomena, analisis masalah, hingga penyusunan penelitian ilmiah.
Dua tim PKM STIKes Sukabumi tahun ini mengangkat tema yang dinilai sangat relevan dengan fenomena sosial dan kesehatan masyarakat saat ini.
Keberhasilan dua tim PKM tersebut diharapkan mampu menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi dan aktif dalam pengembangan penelitian serta inovasi.
Ia menegaskan, kampus akan terus mendukung pengembangan potensi mahasiswa baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Bahkan pihak kampus menargetkan jumlah tim PKM yang lolos pendanaan pada tahun 2027 bisa lebih banyak.
“Insya Allah kami akan terus mendukung mahasiswa agar mampu bersaing dan berprestasi. Target kami ke depan bisa meloloskan lebih banyak tim PKM dan meningkatkan prestasi mahasiswa di berbagai level,”ucapnya.
Tim pertama yang diketuai Evelyn Kyra Jodina Tanoto mengangkat penelitian terkait pengaruh media sosial terhadap keraguan orang tua dalam imunisasi campak, dengan pendekatan budaya lokal Sunda.
Menurut Evelyn, maraknya informasi kesehatan di media sosial yang belum tentu valid menjadi salah satu penyebab munculnya ketakutan dan keraguan masyarakat terhadap vaksinasi.
“Informasi tentang vaksin sekarang sangat mudah menyebar, tetapi tidak semuanya benar. Akibatnya muncul rasa takut dan ragu dari orang tua untuk memberikan imunisasi kepada anaknya,” ujarnya.
Penelitian tersebut menjadi unik karena mengintegrasikan budaya lokal Sunda, ketahanan terhadap misinformasi, dan skeptisisme medis dalam satu model penelitian untuk memprediksi niat imunisasi campak pada orang tua.
“Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi budaya lokal Sunda dengan ketahanan misinformasi dan skeptisisme medis. Hal ini belum pernah diteliti sebelumnya,” jelasnya.
Evelyn berharap hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi referensi dalam pengembangan edukasi kesehatan yang lebih dekat dengan budaya masyarakat serta membantu meningkatkan cakupan imunisasi campak nasional.
The post Dua Tim PKM STIKes Sukabumi Lolos Pendanaan Nasional appeared first on Radar Sukabumi.



















