BANDUNG – Pengembangan energi panas bumi di Jawa Barat terus didorong sebagai solusi energi bersih nasional. Di tengah berbagai perhatian publik, kalangan akademisi menegaskan bahwa teknologi geothermal dirancang aman, termasuk dalam menjaga sumber air masyarakat.
Ahli vulkanologi dari Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Nana Sulaksana, menjelaskan bahwa proses pengeboran panas bumi dilakukan pada kedalaman yang sangat jauh dari sumber air warga.
Ia menyebut, pengeboran dilakukan pada kedalaman sekitar 1.500 hingga 3.000 meter di bawah permukaan tanah, sedangkan sumber air masyarakat umumnya berada di kedalaman 100 hingga 200 meter.
Baca Juga: Baru Tiga Bulan Diperbaiki, Jalan Provinsi di Cisolok Sukabumi Amblas Terdampak Longsor
Menurutnya, kondisi ini diperkuat dengan adanya lapisan batuan penutup yang kedap, sehingga memisahkan zona panas bumi dengan air tanah dangkal. Dengan demikian, air panas bumi tidak akan mencemari sumber air yang digunakan warga sehari-hari.
Selain itu, sistem operasional geothermal juga menggunakan mekanisme tertutup. Dalam sistem ini, seluruh fluida yang diambil dari dalam bumi akan dikembalikan lagi melalui sumur reinjeksi.
Prof. Nana menjelaskan bahwa sistem tersebut memastikan tidak ada gangguan terhadap suplai air permukaan. Ia juga menegaskan bahwa teknologi ini berbeda dengan pertambangan terbuka karena minim pembukaan lahan.
Baca Juga: Tebar Kepedulian di Iduladha, Hergun Salurkan 12 Sapi dan 13 Kambing
“Seluruh fluida panas bumi dimasukkan kembali ke dalam tanah melalui sistem tertutup, sehingga tidak mengganggu keseimbangan air di permukaan,” ujar Prof nana dalam keterangan yang diterima sukabumiku.id, Selasa (26/05/2026).
Keamanan operasional juga diperkuat dengan pemantauan seismik digital selama 24 jam untuk mendeteksi potensi getaran. Model pengelolaan seperti ini, kata dia, telah terbukti berjalan aman selama puluhan tahun.
Ia mencontohkan keberhasilan operasional di PLTP Kamojang yang sudah berjalan sejak 1982. “Model pengelolaan yang aman dan ramah lingkungan seperti ini sudah terbukti sukses berjalan puluhan tahun di Kamojang,” katanya.
Baca Juga: APDESI Sukalarang Pastikan Tidak Ada Pungli maupun Intervensi Program Desa
Tidak hanya menghasilkan listrik, pengembangan geothermal di Jawa Barat juga memberikan dampak tambahan bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Di Kamojang, misalnya, kegiatan operasional berjalan beriringan dengan konservasi satwa seperti Owa Jawa dan Elang Jawa.
Sementara di Wayang Windu, pembangkit listrik berdampingan dengan perkebunan teh tanpa mengganggu produktivitas. Adapun di Patuha, pemanfaatan energi panas bumi juga digunakan untuk pengeringan kopi yang membantu meningkatkan nilai ekonomi petani lokal.
Dengan berbagai pendekatan tersebut, pengembangan geothermal di Jawa Barat dinilai mampu menjawab kebutuhan energi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
The post Geothermal Jabar Diklaim Aman bagi Air Warga, Akademisi Ungkap Fakta Ilmiah first appeared on Sukabumi Ku.



















