JAKARTA — Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (1/6/2026) akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan dengan peluang 54% untuk kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.
Suku bunga tinggi dan penguatan Dolar AS menjadi faktor utama penekan harga emas, karena membuat logam mulia lebih mahal bagi investor asing dan kalah menarik dibanding aset berimbal hasil seperti obligasi.
Harga emas berjangka AS ditutup turun 1,9% ke level 4.506,30 dolar AS per ons, sementara emas spot melemah 1% ke 4.489,34 dolar AS per ons.
Sebaliknya, logam mulia lainnya mayoritas menguat: perak stabil di 75,26 dolar AS per ons, platinum naik 0,7% ke 1.929,60 dolar AS per ons, dan paladium naik 0,9% ke 1.366,44 dolar AS per ons.
Investor kini menanti rilis data ketenagakerjaan AS dan pernyataan pejabat The Fed pekan ini untuk membaca arah kebijakan moneter. Meski jangka pendek tertekan, analis menilai prospek emas tetap positif dalam jangka panjang karena bank sentral diperkirakan terus menambah cadangan emas di tengah stabilisasi geopolitik dan harga energi.(*)



















