Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Jawa Batar

KDM Siaga Kemarau Panjang, Desa Rawan Kekeringan Mulai Didata

×

KDM Siaga Kemarau Panjang, Desa Rawan Kekeringan Mulai Didata

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi
Example 468x60

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, (KDM) meminta seluruh kepala daerah di Jawa Barat segera melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

Menurut Dedi, pemerintah daerah harus bergerak lebih awal untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, krisis air bersih, hingga risiko kebakaran akibat dampak musim kemarau.

Example 300x600

“Kita harus antisipasi dampak kemarau panjang ini, kekeringan bahkan kebakaran. Informasi dari BMKG, puncak kemarau di Jabar akan terjadi Agustus dan September. Saya meminta masukan dan informasi dari bupati walikota, memetakan penanganan masalah,” kata Dedi Mulyadi, Jumat (5/6/2026).

Dedi menegaskan langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini agar dampak kemarau tidak semakin meluas. Salah satu fokus utama adalah mendata desa-desa yang selama ini menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau.

Pendataan tersebut dinilai penting untuk menyusun strategi penyaluran air bersih dan menjaga kebutuhan masyarakat serta sektor pertanian yang rentan terdampak kekeringan.

Selain itu, Dedi meminta dukungan berbagai pihak, termasuk TNI dan pelaku usaha, dalam upaya mitigasi krisis air. Pemerintah daerah juga didorong menyiapkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki dari sumber-sumber air yang masih tersedia.

“Siapkan mobilisasi air dari sumber air menggunakan mobil tangki. Ini perlu dukungan dan kerja sama dengan TNI dan pengusaha air kemasan. Percepat pembangunan jaringan air bersih dan siapkan toren penampung air di setiap desa langganan kekeringan, harus sudah dimulai agar tidak ada rebutan air,” ujarnya.

Pemprov Jawa Barat juga mendorong percepatan pembangunan jaringan air bersih dan fasilitas penampungan air di wilayah-wilayah yang berisiko mengalami kekeringan selama musim kemarau.

Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih berat dibandingkan kondisi normal akibat pengaruh fenomena El Nino.

Menurutnya, sejumlah wilayah di Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat bahkan mulai merasakan dampak musim kemarau sejak Juni 2026.

“Tahun ini kemarau datang lebih cepat, lebih panjang dan lebih kering karena fenomena El Nino. Bulan Juni ini di Pantura sudah terasa, dan bulan Juli hingga Oktober akan merata di Jabar, dimana puncaknya di bulan Agustus dan September,” jelas Teuku.

BMKG memperkirakan durasi musim kemarau di Jawa Barat dapat berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan. Karena itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah mitigasi guna mengurangi dampak kekeringan terhadap masyarakat.

Dengan prediksi kemarau yang lebih panjang dan kering, upaya antisipasi sejak dini dinilai menjadi kunci agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga dan aktivitas pertanian tidak terganggu.(SE)

The post KDM Siaga Kemarau Panjang, Desa Rawan Kekeringan Mulai Didata first appeared on Sukabumi Ku.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *