Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita UtamaSukabumi

Ketika Canting Jadi Jalan Hidup: Kisah Difabel Membatik Tembus Pasar Internasional

×

Ketika Canting Jadi Jalan Hidup: Kisah Difabel Membatik Tembus Pasar Internasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sumber: Radar Sukabumi

BANDUNG Canting panas menari di atas kain putih, meninggalkan jejak malam batik yang beraroma khas. Di sebuah ruangan sederhana di Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, para penyandang disabilitas dengan telaten menggambar motif demi motif.

Example 300x600

Bukan sekadar garis dan warna, tetapi harapan tentang kemandirian hidup. Dari ruang pelatihan di bawah naungan UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel, lahir karya batik yang pernah menembus pasar internasional hingga menjadi suvenir ke Italia. Kini, kawasan ini mulai diarahkan menjadi destinasi wisata edukasi berbasis pemberdayaan difabel.

Sejak berdiri pada 2021, Kampung Kreatif Batik Difabel telah membina lebih dari 120 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Mereka bukan hanya belajar membatik, tetapi juga menjahit, kerajinan tangan, hingga keterampilan jasa. Setiap tahun, sekitar 100 orang mengikuti pelatihan kemandirian, dengan angkatan yang dimulai pada Januari dan berlanjut hingga pertengahan tahun.

Andina Rahayu (45)

Andina Rahayu (45), Kepala UPTD Griya Harapan Difabel, menegaskan bahwa kawasan seluas 2,8 hektar ini tidak hanya berhenti sebagai tempat produksi batik.

“Kami ingin tempat ini dikenal lebih luas sebagai destinasi wisata edukasi. Jadi masyarakat bukan hanya membeli batik, tetapi juga bisa melihat langsung proses membatik dan memahami makna di balik setiap motif,” ujarnya.

Di ruang produksi, Nurdin (35) asal Cianjur, seorang pembatik senior yang telah enam tahun berkarya, tampak sibuk menyelesaikan pesanan. Dengan penuh ketelitian, ia menggambar sketsa, mencanting, mewarnai, hingga menjemur kain batik. “Semua harus teliti karena setiap motif punya tingkat kesulitan berbeda,” katanya.

Produksi batik di tempat ini bisa mencapai 100 potong kain per bulan, dengan ukuran rata-rata 2 meter. Harga jual berkisar Rp300.000–Rp350.000, sementara pesanan khusus bisa mencapai Rp600.000. Meski hasil karya mulai dikenal luas dan rutin mengikuti pameran, tantangan terbesar masih pada pemasaran.

“Kadang ada masa sepi. Karena itu, kami berharap ada dukungan untuk promosi dan pengembangan usaha,” tambah Nurdin.

Zaenlani (26) dari Cirebon

Saepudin (27) dari Garut, yang mengalami keterbatasan bicara, menemukan ruang ekspresi melalui batik. Begitu pula Zaenlani (26) dari Cirebon, yang sejak 2017 mengalami kecelakaan dan kini menekuni batik kontemporer. Kisah mereka menunjukkan bahwa batik bukan sekadar produk, melainkan jalan menuju pemulihan dan kemandirian.

CSR BRI dan Harapan Masa Depan

Dukungan dari berbagai pihak, terutama melalui program CSR perbankan seperti yang dilakukan BRI, menjadi harapan besar. Pelatihan digital marketing yang sudah berjalan membantu membuka wawasan baru bagi para pengrajin difabel. Namun, fasilitas, ruang pameran, dan promosi digital masih perlu diperkuat.

“Kalau fasilitas dan promosinya semakin baik, dampaknya juga akan besar untuk teman-teman difabel di sini. Mereka punya kemampuan dan karya yang layak diapresiasi,” kata Andina.

Batik Jawa Barat memiliki sejarah panjang dan makna mendalam. Di Kampung Kreatif Batik Difabel, tradisi itu dipadukan dengan semangat inklusi. Motif kontemporer dan abrak lahir dari tangan-tangan yang penuh ketekunan. Batik di sini bukan hanya kain, melainkan simbol perjuangan, kemandirian, dan keberanian untuk berdiri sejajar.

Kampung Kreatif Batik Difabel adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Dengan dukungan berkelanjutan, kawasan ini berpotensi menjadi ikon wisata inklusif Jawa Barat, sekaligus contoh bagaimana pemberdayaan difabel dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Dari canting panas yang menari di atas kain putih, lahir harapan yang menyala untuk masa depan.(hnd)

 

 

The post Ketika Canting Jadi Jalan Hidup: Kisah Difabel Membatik Tembus Pasar Internasional appeared first on Radar Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *