Kumara Lemah Karuhun, Alarm dari Generasi Muda Kota Sukabumi Untuk Bumi yang Kian Terancam

SUKABUMI – Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan dan semakin berkurangnya ruang bagi budaya tradisional dalam kehidupan generasi muda, sebuah pertunjukan seni di Kota Sukabumi justru mengangkat dua persoalan tersebut secara bersamaan. Melalui karya bertajuk “Kumara Lemah Karuhun: The Last Guardian”, anak-anak ditempatkan sebagai simbol harapan sekaligus penjaga terakhir warisan budaya dan alam yang mulai tergerus zaman.

Fenomena hilangnya permainan tradisional, berkurangnya interaksi anak dengan lingkungan sekitar, hingga semakin kuatnya pengaruh budaya digital menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam pertunjukan yang digelar di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi pada 14 Juni 2026.

Berbeda dengan pertunjukan seni pada umumnya, karya ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan kritik sosial terhadap menurunnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan pelestarian budaya lokal. Kaulinan barudak Sunda yang menjadi bagian utama pertunjukan ditampilkan sebagai media pendidikan yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, strategi, hingga penghormatan terhadap alam.

Sutradara sekaligus penggagas karya, Indra Gandara, menilai bahwa generasi muda perlu dilibatkan secara aktif dalam upaya menjaga keberlangsungan budaya dan lingkungan. Menurutnya, anak-anak bukan sekadar penonton masa depan, melainkan aktor utama yang akan menentukan arah peradaban.

“Kumara Lemah Karuhun bukan hanya sebuah pertunjukan seni. Ini adalah ruang refleksi tentang bagaimana kita memperlakukan alam dan bagaimana kita menjaga warisan budaya yang diwariskan para leluhur. Anak-anak kami tempatkan sebagai tokoh utama karena masa depan kedua hal tersebut berada di tangan mereka,” ujarnya.

BACA JUGA : Drama Musikal KUMARA Jadi Jawaban Pendidikan Karakter Ala Dedi Mulyadi

Indra menjelaskan, pesan lingkungan yang diangkat dalam pertunjukan tersebut berangkat dari realitas yang saat ini dihadapi masyarakat. Berbagai persoalan seperti berkurangnya ruang hijau, pencemaran lingkungan, hingga menurunnya interaksi sosial akibat perubahan pola hidup modern menjadi tantangan yang harus disadari sejak dini.

Di sisi lain, keberadaan kaulinan barudak Sunda yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak kini semakin jarang ditemui. Padahal, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana pembentukan karakter, kerja sama, serta pengenalan nilai-nilai kearifan lokal.

Tim Manajemen Produksi, Rivaldi Indra Hapidzin, M.Pd., mengatakan bahwa keterlibatan anak-anak dalam keseluruhan proses kreatif menjadi kekuatan utama karya tersebut. Mereka tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi juga menjadi penyampai pesan mengenai pentingnya menjaga budaya dan lingkungan.

“Anak-anak menjadi representasi generasi yang akan mewarisi kondisi bumi dan kebudayaan di masa depan. Karena itu, suara mereka perlu didengar sejak sekarang,” katanya.

BACA JUGA : Pagelaran Kumara Lemah Karuhun Tinggal Menghitung Jam

Hal senada disampaikan Viranie Dwi Monikawatie, M.Pd. Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa isu pelestarian budaya dan lingkungan masih menjadi perhatian publik. Ia menilai budaya lokal tetap memiliki relevansi kuat jika dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan generasi saat ini.

Pertunjukan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan. Keduanya merupakan warisan yang harus dijaga secara bersama agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Melalui karya tersebut, para seniman berharap lahir kesadaran baru bahwa menjaga bumi dan melestarikan budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tugas bersama yang harus dimulai dari generasi muda sebagai penjaga masa depan.

The post Kumara Lemah Karuhun, Alarm dari Generasi Muda Kota Sukabumi Untuk Bumi yang Kian Terancam first appeared on Sukabumi Ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *