
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada masa ketika hidup terasa seperti antre panjang yang tidak jelas ujungnya. Kita sudah berusaha, sudah menahan diri, sudah memilih jalan yang benar, tetapi hasilnya belum juga datang. Di titik seperti itu, orang sering mengira sabar adalah bakat. Padahal, sabar lebih mirip otot yang harus dilatih.
عن أبي سَعيد سعدِ بن مالكِ بنِ سنانٍ الخدري رضي الله عنهما: أَنَّ نَاسًا مِنَ الأَنْصَارِ سَألوا رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فَأعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَألوهُ فَأعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِندَهُ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ أنْفْقَ كُلَّ شَيءٍ بِيَدِهِ: ((مَا يَكُنْ عِنْدي مِنْ خَيْر فَلَنْ أدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ. وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأوْسَعَ مِنَ الصَّبْر)). مُتَّفَقٌ عليه.
Dari Abu Said iaitu Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta – sedekah – kepada Rasulullah S.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda:
“Apa saja kebaikan – yakni harta – yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan ku simpan sehingga tidak ku berikan padamu semua, tetapi oleh sebab sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barang siapa yang menjaga diri – dari meminta- minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah Swt dan barang siapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah Swt – kaya hati dan jiwa – dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikurnia kesabaran oleh Allah Swt.
Tiada seorang pun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas – kegunaannya – daripada karunia kesabaran itu.”
(Muttafaq ‘alaih)
Kalimat yang sederhana tetapi dalam: “barang siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya sabar.” Ini bukan janji instan. Ini undangan untuk berproses. Sabar bukan sekadar diam. Sabar adalah keputusan sadar untuk tetap lurus, meski kondisi tidak nyaman.
Saya pernah melihat seorang guru di pelosok Sukabumi. Gajinya kecil. Fasilitas terbatas. Sinyal internet pun sering hilang. Tapi ia tetap datang lebih pagi dari muridnya. Ia mengajar dengan tenang. Tidak mengeluh di depan siswa. Saya pernah bertanya, “Apa yang membuat Bapak kuat?” Ia hanya tersenyum, “Dilatih, Pak. Awalnya berat. Lama-lama jadi biasa.” Di situlah saya paham. Sabar itu bukan teori. Ia latihan harian.
Hadis ini juga mengingatkan bahwa sabar itu anugerah terbesar. Bukan harta, bukan jabatan. Karena sabar menguatkan semua aspek hidup. Tanpa sabar, ilmu jadi sombong. Tanpa sabar, ibadah terasa berat. Tanpa sabar, ujian terasa seperti hukuman.
Dalam Al-Qur’an, sabar tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan kemenangan.
وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ, سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.’ maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”
[QS. Ar-Ra’du/13: 23-24]
Ayat ini menarik. Yang disambut malaikat bukan orang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Tapi yang paling sabar. Artinya, sabar itu terlihat oleh langit, meski sering tidak terlihat oleh manusia.
Ada juga janji yang lebih tinggi.
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا
“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam syurga) atas kesabaran mereka…
[QS. Al-Furqân : 75]
Sabar membawa seseorang naik derajat. Bukan karena ia hebat, tetapi karena ia bertahan saat orang lain menyerah.
Masalahnya, kita sering ingin hasil tanpa proses. Kita ingin tenang tanpa latihan. Kita ingin kuat tanpa ujian. Padahal, sabar justru tumbuh dari situasi yang tidak nyaman.
Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa kualitas ini tidak mudah.
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar. dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”
(QS. Fushshilat : 35)
Ayat ini seperti menampar pelan. Sabar bukan milik semua orang. Hanya yang mau berlatih yang akan mendapatkannya.
Latihan sabar itu konkret. Bukan konsep abstrak.
Pertama, sabar dalam taat. Bangun pagi untuk shalat, padahal badan lelah. Mengajar dengan penuh tanggung jawab, meski tidak diawasi. Ini latihan kecil, tapi dampaknya besar.
Kedua, sabar meninggalkan maksiat. Menahan diri dari hal yang kita inginkan, tapi kita tahu itu salah. Ini lebih berat. Karena tidak ada yang melihat, kecuali Allah.
Ketiga, sabar menghadapi takdir. Kehilangan, kegagalan, penolakan. Di sini sabar diuji. Apakah kita tetap tenang, atau mulai menyalahkan keadaan.
Keempat, sabar saat mendapat nikmat. Ini sering dilupakan. Ketika hidup enak, kita bisa lalai. Sabar di sini berarti tidak berlebihan, tetap bersyukur, tetap ingat tujuan hidup.
Saya sering merasa, sabar itu seperti menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Tidak semua hal harus dibalas. Tidak semua masalah harus direspon cepat. Kadang, diam adalah bentuk sabar yang paling sulit.
Menariknya, hadis ini tidak memerintahkan kita langsung menjadi sabar. Tapi diminta “melatih diri”. Artinya, wajar jika kita belum sempurna. Wajar jika masih jatuh bangun. Yang penting terus mencoba.
Dalam dunia pendidikan, ini sangat relevan. Guru butuh sabar menghadapi karakter siswa. Orang tua butuh sabar mendampingi anak. Pemimpin butuh sabar menghadapi kritik. Tanpa sabar, semua relasi akan mudah retak.
Akhirnya, sabar bukan tentang menunggu tanpa arah. Sabar adalah tetap bergerak, tapi dengan hati yang tenang. Tetap berusaha, tapi tanpa putus asa. Tetap yakin, meski hasil belum terlihat.
Dan mungkin, di situlah letak keindahannya. Sabar itu sunyi. Tidak selalu dihargai manusia. Tapi sangat dihitung oleh Allah.
Wallahu a’lamu
The post Latihan Sunyi Bernama Sabar first appeared on Sukabumi Ku.




