Sumber: Radar Sukabumi
SUKABUMI – Deru kendaraan di sepanjang Jalan A Yani, Kota Sukabumi, menjadi latar perjuangan Didin (43), warga Gang Samsi, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole Kota Sukabumi. Sejak tahun 2000, ia setia menjaga lapak sederhana berisi kopi sachet, air mineral, dan makanan ringan. Dari tempat kecil itu, Didin menggantungkan harapan hidupnya selama lebih dari 26 tahun.
Hari-harinya dimulai pukul 07.00 WIB. Ia menata dagangan, lalu bertahan hingga malam pukul 21.00 WIB. Panas terik, debu jalanan, hingga hujan mendadak sudah menjadi bagian dari rutinitas. Meski begitu, Didin tetap bertahan dengan harapan ada pembeli yang datang. Dalam sehari, omzetnya rata-rata hanya Rp50 ribu. “Kalau hari biasa paling bersihnya Rp50 ribu,” ujarnya lirih.
Akhir pekan sedikit memberi harapan. Sabtu dan Minggu biasanya lebih ramai, omzet bisa mencapai Rp100 ribu. Namun ketidakpastian penghasilan membuat Didin mencari tambahan dengan menjadi pengemudi ojek online. “Kalau sepi, saya ngojol. Lumayan buat nambah,” katanya.
Sebagai kepala keluarga, Didin harus memenuhi kebutuhan istri dan dua anaknya. Anak pertama kini duduk di bangku SMA, sementara anak kedua masih sekolah dasar. Biaya pendidikan menjadi beban terbesar, tetapi Didin bertekad anak-anaknya tidak boleh putus sekolah.
The post Melihat Pedagang Sederhana di Kota Sukabumi, Simbol Keteguhan Hidup appeared first on Radar Sukabumi.

















