Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita Utama

Menanti Cahaya di Rumah Reyot: 17 Tahun Hidup Pudin dan Istri dalam Gelap Katarak

×

Menanti Cahaya di Rumah Reyot: 17 Tahun Hidup Pudin dan Istri dalam Gelap Katarak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60


INILAHSUKABUMI.COM – tengah rimbunnya pepohonan dan sempitnya jalan setapak di Kampung Ciseureuh, Desa Cijulang, Kecamatan Jampangtengah, berdiri sebuah rumah kecil dari anyaman bambu. Dari kejauhan, rumah itu tampak rapuh, seperti hampir roboh dimakan usia. Dindingnya penuh lubang, atapnya reyot, dan lantainya berderit setiap kali diinjak. Inilah rumah yang selama 17 tahun terakhir menjadi tempat berteduh Pudin (60) dan istrinya, Een (50).

Example 300x600

Ketika malam tiba, udara dingin merayap masuk melalui celah-celah dinding bambu. Jika hujan turun, air menetes tanpa henti dari atap yang bocor, membuat mereka kedinginan sambil mencoba tidur di sudut ruangan yang kering.

“Kalau hujan deras, kami hanya bisa menggulung tikar dan pindah ke tempat yang tidak terlalu basah,” tutur Pudin dengan suara pelan.

Rumah itu dibangun belasan tahun lalu berkat gotong royong warga. Namun, tanpa biaya perbaikan, kondisi bangunan kini semakin memprihatinkan. Pudin, yang hanya bekerja serabutan, tak pernah mampu memperbaikinya. Sehari-hari ia mengandalkan pekerjaan kecil yang kadang hanya menghasilkan Rp20 ribu.

“Itu pun tidak setiap hari ada,” ucapnya, sambil menunduk menahan getir.

Keterbatasan bukan hanya soal rumah. Pudin dan Een hidup tanpa fasilitas dasar. Mereka tak memiliki kamar mandi, bahkan untuk buang air pun terpaksa menggunakan selokan di samping rumah. Bagi mereka, kehidupan sehari-hari adalah perjuangan panjang yang penuh keterbatasan.

Namun, beban terberat sesungguhnya bukan pada kondisi rumah atau keterbatasan uang, melainkan penyakit yang diderita Een. Sudah lebih dari enam tahun, penglihatan Een meredup karena katarak di kedua matanya. Pandangan yang dulu jernih kini berganti kabur, membuatnya sulit beraktivitas. Setiap hari, ia hanya bisa duduk di dalam rumah, menunggu suami pulang sambil berusaha bertahan dengan penglihatan yang semakin hilang.

“Kalau jalan keluar rumah, saya harus dituntun. Kadang saya takut jatuh. Sudah lama sekali saya begini,” ujar Een lirih, menahan air mata yang hampir jatuh.

Harapan untuk berobat terasa semakin jauh. Mereka tidak memiliki BPJS Kesehatan, sementara Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang pernah dimiliki kini sudah tidak bisa digunakan lagi.

“Untuk ke rumah sakit saja kami tidak punya biaya, apalagi untuk operasi,” tambah Pudin, yang suaranya bergetar saat berbicara.

Ironisnya, selama 17 tahun tinggal di rumah reyot itu, mereka belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik bantuan pangan, perbaikan rumah, maupun akses kesehatan.

“Kami hanya bisa menunggu. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah atau orang yang peduli,” ucap Pudin, matanya berkaca-kaca.

Kisah Pudin dan Een adalah potret buram kehidupan rakyat kecil yang kerap luput dari perhatian. Di saat pembangunan kota terus digenjot, ada pasangan suami istri di sebuah kampung terpencil yang setiap harinya bergelut dengan dingin, lapar, dan sakit. Mereka hidup dalam kesunyian, di rumah reyot yang nyaris roboh, dengan harapan yang semakin menipis.

Di balik dinding bambu yang lapuk itu, tersimpan doa sederhana: agar suatu hari ada cahaya yang datang, entah dari tangan pemerintah atau uluran hati sesama manusia. Sebuah cahaya yang bisa menghangatkan malam mereka, memperbaiki atap rumah yang bocor, dan mengembalikan penglihatan Een yang kian meredup.

The post Menanti Cahaya di Rumah Reyot: 17 Tahun Hidup Pudin dan Istri dalam Gelap Katarak first appeared on Inilah Sukabumi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *