
Sumber: Radar Sukabumi
JAKARTA — Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memperkirakan tambahan subsidi energi pemerintah berpotensi membengkak lebih dari Rp100 triliun seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir.
Faisal menjelaskan, besarnya subsidi energi dipengaruhi dua faktor utama, yakni harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dan nilai tukar rupiah. “Dengan rupiah yang sudah melemah sampai Rp17.850, ini tentu saja akan lebih membengkak lagi subsidinya,” ujarnya kepada Jawapos.com, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan kalkulasi CORE Indonesia, tambahan subsidi energi sudah bisa mencapai lebih dari Rp100 triliun apabila kurs rupiah berada di level Rp17.000 per dolar AS dan harga minyak menyentuh USD 100 per barel. Dengan kondisi rupiah yang kini melemah hingga kisaran Rp17.600 per dolar AS dan harga minyak masih tinggi, Faisal menilai tambahan subsidi energi saat ini sangat mungkin sudah melampaui Rp100 triliun.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah penghematan dan melakukan refocusing anggaran agar defisit fiskal tidak melebar melampaui batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). “Sehingga pemerintah memang perlu melakukan langkah-langkah penghematan dan refocusing anggaran secara luar biasa, supaya defisit tidak melebar melebihi 3 persen,” tuturnya.
The post Pelemahan Rupiah dan Harga Minyak Picu Beban Subsidi Bengkak Rp100 Triliun appeared first on Radar Sukabumi.



















