
FAKFAK — Pengembangan jagung di kawasan transmigrasi Distrik Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, masih menghadapi sejumlah persoalan mulai dari kondisi lahan, ketersediaan air dan pupuk hingga akses pemasaran.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) perdana yang digelar Tim Ekspedisi Patriot sebagai bagian dari upaya merumuskan strategi pengembangan jagung di kawasan tersebut.
FGD dipimpin Tim Ekspedisi Patriot yang diketuai Dr. Yani Maharani, S.P., M.Si., dengan mengangkat tema akselerasi jagung sebagai bahan pangan dan pakan bernilai ekonomis tinggi untuk menunjang kesejahteraan masyarakat Bomberay-Tomage.
Baca Juga: Lahan Belakang SMAN 2 Sukabumi Terbakar, Tiga Unit Mobil Damkar Dikerahkan
Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah daerah, penyuluh, petani, dan pihak terkait lainnya. Diskusi diarahkan untuk menghimpun pengalaman, persoalan, serta potensi yang ditemukan di lapangan.
Berdasarkan identifikasi awal Tim Ekspedisi Patriot, pengembangan pertanian di kawasan Tomage tidak hanya menghadapi persoalan produksi. Kondisi lahan, ketersediaan air, pupuk, pengelolaan kesuburan tanah, sarana dan prasarana pertanian, hingga pemasaran menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, pengembangan jagung dinilai membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kondisi petani setempat.
Baca Juga: Sambut HUT ke-81 TNI, Koramil Jampangkulon Ajak Lintas Sektor Turun Bersihkan Pasar Cinagen
Pembahasan mencakup sejumlah aspek budidaya, antara lain pemilihan varietas, pengelolaan kualitas tanah, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga penanganan pascapanen.
“FGD ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi merupakan titik awal untuk menyusun langkah konkret berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujar Dr. Yani Maharani.
Tim Ekspedisi Patriot menilai keberhasilan pengembangan jagung tidak cukup hanya dilihat dari peningkatan produksi. Keberlanjutan usaha tani juga bergantung pada ketersediaan input produksi, teknologi, pendampingan, kelembagaan petani, kepastian pasar, serta keterhubungan dengan sektor lain.
Baca Juga: PWI Cup II Tenis Meja 2026 Digelar, Heri Gunawan Dorong Sportivitas dan Pererat Silaturahmi
Jagung sendiri memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas pangan, tetapi juga sebagai bahan baku pakan. Keterkaitan tersebut dinilai dapat membuka peluang nilai tambah sekaligus mendukung pengembangan sektor peternakan di kawasan Tomage.
Hasil FGD selanjutnya akan digunakan untuk memperkuat pemetaan persoalan dan menentukan prioritas intervensi. Tim juga berencana merancang demplot serta strategi pengembangan jagung yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal.
Kelompok Jagung dalam Tim Ekspedisi Patriot akan melanjutkan identifikasi di sejumlah kampung dengan menggali pengetahuan dan pengalaman petani sebagai bagian dari penyusunan pendekatan pengembangan pertanian.
Upaya tersebut diarahkan untuk mendorong pertanian Tomage berkembang dari aktivitas produksi menuju sistem agribisnis yang lebih produktif, memiliki nilai tambah, dan berkelanjutan.
The post Pengembangan Jagung di Tomage Masih Hadapi Kendala Lahan hingga Pasar first appeared on Sukabumi Ku.




